LombokPost - Sungguh ironis, AC Milan berada di luar zona Liga Champions setelah pekan pertama, lalu stabil di zona itu hingga pekan 37, dan kembali ke luar di pekan terakhir.
AC Milan menghabiskan 36 pekan di dalam zona Liga Champions, dan sekarang di penghujung musim, target itu justru lepas usai laga terakhir.
Musim indah yang perlahan runtuh di garis akhir, tim yang sempat memimpin Serie A, membuat fans membayangkan mengangkat piala, kini malah finish ke 6 karena kekalahan laga terakhir.
Baca Juga: Gaya Main Kuno AC Milan "Sukses" Menggali Kuburnya Sendiri
Bayangkan, AC Milan 36 pekan berada di zona UCL, sempat terlihat aman, tetapi semuanya hilang di momen penentuan.
Pekan lalu AC Milan masih ada di urutan 3 besar, tapi kini mereka terlempar ke urutan 5, disalip AS Roma, Como, hanya lebih baik dari Juventus yang seri di laga terakhir.
Itulah yang membuat kegagalan ini terasa jauh lebih menyakitkan bagi fans AC Milan, kalah di laga terakhir.
Bukan karena AC Milan tidak pernah dekat, tetapi karena mereka begitu dekat, lalu kehilangan semuanya di akhir.
Usai laga kontra Cagliari, Zlatan Ibrahimovic harus dikawal menuju area parkir, situasi di luar stadion dipenuhi kemarahan fans.
Atmosfer sekitar AC Milan benar-benar sedang memanas, fans meluapkan kekecewaan kepada manajemen, dan Zlatan Ibrahimovic menjadi salah satu sosok yang disorot.
Baca Juga: Semakin Banyak Nama yang Dikaitkan dengan AC Milan, Beberapa Berstatus Bebas Transfer
Sebagai legenda klub, Zlatan Ibrahimovic dulu selalu mendapat sorakan penuh cinta dari San Siro, kini, situasinya berubah drastis, dia dianggap salah satu biang kerok keterpurukan AC Milan.
Sebelum laga usai, petinggi AC Milan lain, Giorgio Furlani dan Geoffrey Moncada juga diprotes keras fans AC Milan.
Curva Sud menilai keputusan manajemen dalam beberapa musim terakhir telah membuat AC Milan kehilangan arah, identitas, dan daya saing. (yuk)
Editor : Prihadi Zoldic