LombokPost--Kegagalan Timnas Korea Selatan di Piala Dunia 2026 memicu kemarahan Presiden Lee Jae-myung. Orang nomor satu di Negeri Ginseng itu secara terbuka meminta reformasi menyeluruh terhadap Asosiasi Sepak Bola Korea (KFA) yang dinilai bertanggung jawab atas hasil mengecewakan tersebut.
Dalam pernyataannya, Lee mengaku sangat terkejut sekaligus kecewa dengan performa tim nasional yang gagal memenuhi ekspektasi publik.
"Saya bukan hanya terkejut dengan hasil yang tidak terduga ini, saya benar-benar tidak habis pikir," ujar Lee Jae-myung.
Presiden menegaskan bahwa keikutsertaan Korea Selatan di Piala Dunia menggunakan anggaran besar yang berasal dari dana publik. Karena itu, menurutnya, masyarakat berhak mengetahui penyebab kegagalan tersebut secara transparan.
Lee kemudian memerintahkan Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata untuk melakukan investigasi menyeluruh terhadap KFA.
"Mengingat partisipasi di Piala Dunia melibatkan dana besar dari para pembayar pajak dan dukungan negara, saya meminta Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata untuk menyelidiki secara menyeluruh apa yang sebenarnya terjadi, menganalisis penyebabnya, serta menyiapkan langkah-langkah komprehensif agar kejadian serupa tidak terulang," tegasnya.
Baca Juga: HUT Polri Ke-80, Ditpolairud Polda NTB Bersihkan Masjid, Gereja, dan Pura Sekaligus Salurkan Bantuan
Tak hanya investigasi, pemerintah juga berkomitmen melakukan reformasi tata kelola olahraga nasional agar sistem pembinaan dan pengelolaan sepak bola menjadi lebih profesional.
"Kami akan segera mendorong reformasi dalam tata kelola olahraga agar hal seperti ini tidak pernah terjadi lagi," lanjut Lee.
Dalam kesempatan yang sama, Presiden juga menyindir keras proses pemilihan pemimpin organisasi olahraga.
"Jika pemimpin dipilih bukan berdasarkan kemampuan, hasilnya sudah bisa ditebak," katanya.
Kritik terhadap KFA juga datang dari kalangan parlemen. Sejumlah anggota parlemen dari partai berkuasa bahkan menyebut KFA sebagai "musuh terbesar sepak bola Korea" saat ini karena dianggap gagal menjalankan organisasi dan mengelola dana publik secara efektif.
Sebagai bentuk kekecewaan yang mendalam, pemerintah dan otoritas terkait dikabarkan tidak akan menggelar seremoni penyambutan bagi skuad Timnas Korea Selatan saat kembali ke tanah air.
Keputusan tersebut menjadi simbol besarnya kekecewaan publik dan termasuk langkah yang sangat jarang terjadi dalam sejarah sepak bola Korea Selatan.
Kini, perhatian publik tertuju pada hasil investigasi pemerintah dan kemungkinan reformasi besar-besaran yang akan mengubah wajah sepak bola Korea Selatan pada masa mendatang.
Editor : Kimda Farida