LombokPost – Air mata kembali tumpah di kubu Samurai Blue.
Harapan besar untuk mengukir sejarah baru di panggung tertinggi sepak bola dunia harus kandas secara menyakitkan.
Kekalahan Jepang dari Brasil di babak 32 besar Piala Dunia 2026 menegaskan satu hal yang sangat kejam: kutukan Jepang fase gugur masih enggan pergi dan justru kembali memakan korban dengan cara yang paling traumatis.
Bermain di Stadion Houston, Jepang sejatinya sempat membuka asa lewat gol mengejutkan Kaishu Sano di menit ke-29.
Baca Juga: AC Milan Bersaingan dengan Como untuk Mattia Liberali
Keunggulan 1-0 bertahan hingga turun minum dan membuat publik mengira keajaiban akan tercipta.
Namun, penyakit lama mentalitas di babak krusial kembali kambuh.
Brasil perlahan bangkit, menyamakan kedudukan lewat Casemiro, sebelum akhirnya menghancurkan hati Jepang lewat gol menit akhir Martinelli di masa injury time (90+5').
Kekalahan Jepang dari Brasil dengan skor akhir 2-1 lewat skenario comeback ini seolah memutar kembali memori kelam masa lalu.
Sepanjang sejarah keikutsertaan mereka, Jepang seperti memiliki tembok tebal yang tak pernah bisa didobrak begitu mereka lolos dari fase grup.
Jejak Kelam Kutukan Jepang Fase Gugur di Piala Dunia:
Piala Dunia 2002: Disingkirkan Turki 0-1 di Babak 16 Besar.
Piala Dunia 2010: Kalah adu penalti dari Paraguay setelah bermain imbang 0-0.
Piala Dunia 2018: Kena comeback tragis Belgia 2-3 di menit-menit akhir laga.
Piala Dunia 2022: Didepak Kroasia lewat drama adu penalti di Babak 16 Besar.
Piala Dunia 2026: Kena comeback menyakitkan dari Brasil lewat gol di menit ke-95.
Skenario tumbang di detik-detik akhir ini sangat identik dengan tragedi Rostov saat melawan Belgia delapan tahun silam.
Ketika laga tampak akan berlanjut ke babak tambahan waktu, kelengahan lini belakang Jepang dalam mengantisipasi serangan kilat berujung pada gol menit akhir Martinelli yang memastikan kekalahan Jepang dari Brasil.
"Ini sangat menyakitkan. Kami mengendalikan permainan di babak pertama, namun di fase sekrusial ini, detail kecil dan konsentrasi di menit-menit akhir menjadi pembeda," ujar pelatih Jepang Hajime Moriyasu, dengan nada bergetar usai laga.
Dengan hasil ini, takdir belum mengizinkan Jepang mencicipi manisnya kemenangan di sistem gugur turnamen mayor.
Kutukan Jepang fase gugur resmi diperpanjang di tanah Amerika, sementara langkah anak asuh Carlo Ancelotti terus melaju ke babak berikutnya di Piala Dunia 2026.
Editor : Prihadi Zoldic