Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Positif Korona Tenaga Kesehatan di Kota Bima Merasa Ditelantarkan

Administrator • Sabtu, 8 Agustus 2020 | 22:03 WIB
Ilustrasi penanganan pasien covid 19. (HARITSAH ALMUDATSIR/JAWA POS)
Ilustrasi penanganan pasien covid 19. (HARITSAH ALMUDATSIR/JAWA POS)
KOTA BIMA-Tenaga kesehatan (Nakes) yang diisolasi di PKM Paruga beberapa waktu lalu merasa ditelentarkan. Para mengaku tidak mendapat pelayanan maksimal selama isolasi.

Kepala Dinas Kesehatan (Kadikes) Kota Bima Azhari angkat bicara. Dia menuding jika para Nakes itu melanggar prosedur. Sehingga tidak bisa dilayani.

"Sebenarnya ada kekeliruan soal persepsi pelayanan tersebut. Mereka harusnya isolasi mandiri di rumah masing-masing bukan di PKM. Itu aturannya. Tapi Nakes yang positif Covid malah memilih isolasi mandiri di PKM," terangnya, Kamis (6/8).

Parahnya lagi kata dia, mereka menelpon dirinya meminta untuk diberikan makan. Kalau secara pribadi, permintaan itu akan dilayani dengan memberikan sumbangan  secara sukarela. Tapi kalau melalui anggaran Covid-19, tidak bisa. Karena mereka tidak isolasi mandiri di rumah. "Nanti kita bisa dituntut sama orang-orang yang diisolasi mandiri di rumah. Karena status Nakes itu isolasimandiri,'' terangnya.

Sebanyak 25 orang Nakes yang diisolasi mandiri di PKM Paruga waktu itu, mereka menentukan sendiri masuk dan keluar. Padahal  yang boleh menyatakan mereka sembuh dan boleh keluar, hanya dokter. "Iya itu memang kesalahan Dikes yang tanda tangani mereka agar keluar saat isolasi di PKM Paruga. Tapi perlu diketahui, bukan saya yang tanda tangani urat dari Dikes itu, saya lagi tugas dinas di Mataram," tuturnya.

Saat mereka keluar pun sambungnya, para Nakes tidak mau di-tracking, padahal itu Protap yang harus dilakukan. Termasuk tracking untuk anggota keluarga mereka. "Mereka semaunya menentukan Protap. Bahkan sudah disarankan untuk isolasi di RS Darurat, tapi tidak mau. Para Nakes ini tidak memberi contoh yang  baik pada masyarakat," tudingnya.

Seharusnya, ketika hasil Swab mereka dinyatakan positif, para Nakes tidak boleh tidur di PKM Paruga. Tapi di RS Darurat yang sudah ditunjuk pemerintah. Tapi mereka tidak mau mengikuti ketentuan.

Ditanya soal desakan dari para Nakes meminta dirinya dicopot dari kepala dinas kesehatan?. Azhari menanggapinya dengan santai. Soal pergantian jabatan itu kata dia, urusan Baperjakat. Hanya saja dia merasa perihatin melihat aksi para Nakes tersebut, tanpa ada pertemuan atau diskusi sebelum turun aksi. "Kan bisa bicara baik baik," katanya, Kamis (6/8).

Dia menilai ada dua alasan kenapa para Nakes itu menggelar aksi. Pertama, ada yang merasa kecewa karena dimutasi. Kedua, soal pelayanan terhadap para Nakes positif Covid-19 yang diisolasi di PKM Paruga. Karena merasa tidak diberikan pelayanan secara maksimal. (tin/r8)

  Editor : Administrator
#Tenaga Kesehatan #Virus Korona #Kota Bima