Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bima Isyrah mengatakan, bencana alam itu terjadi setelah hujan lebat mengguyur wilayah Tambora Rabu (21/2) dini hari.
"Intensitas hujan cukup tinggi dan lama di wilayah Tambora, sehingga menyebabkan banjir dan satu jembatan putus," kata dia.
Isyrah mengatakan dari tiga desa yang terdampak bencana alam tersebut, ada 10 Kepala Keluarga (KK) yang rumahnya terendam di Desa Labuhan Kenanga.
Selain itu, bangunan sekolah ikut terdampak sehingga membuat aktifitas belajar mengajar terganggu.
Sementara di Desa Oi Panihi, tembok rumah warga bernama Nurdin yang berada di bantaran sungai jebol dihantam derasnya arus banjir.
"Desa Kawinda Toi ada satu jembatan yang putus, sedangkan untuk lahan pertanian masih dalam pendataan," ujarnya.
Menurutnya, tidak korban jiwa atau luka-luka dalam peristiwa ini.
Selain membuat arus lalu lintas lumpuh total, warga terdampak mengalami kerugian cukup besar.
BPBD, lanjut dia, saat ini bersama para pihak terkait tengah proses pendataan, termasuk penanganan tanggap darurat untuk jembatan yang putus di Desa Kawinda Toi.
"Kami masih melakukan pendataan dan kaji cepat serta penanganan darurat terhadap daerah terdampak," kata Isyrah.
Pada hari yang sama, terjadi angin puting beliung beserta hujan lebat di Desa Oi Panihi, Kecamatan Tambora.
Satu unit rumah rubuh dan menimpa anak pemilik rumah.
"Korban mengalami luka ringan dan sempat mendapat perawatan medis," tuturnya.
Camat Tambora Fadilah mengatakan, banjir bandang yang merendam puluhan rumah warga Desa Labuan Kananga sudah surut.
"Air sudah surut sejak tadi malam dan tidak ada kerusakan berarti yang diakibatkan banjir ini," ucap dia.
Fadilah menyampaikan, warga korban banjir membutuhkan bantuan tanggap darurat dari pemerintah daerah.
"Makan siap saji, air bersih hingga penghangat tubuh, itu yang dibutuhkan warga saat ini," terangnya. (man/r8)