Jurusan teknik masih sering diidentikkan dengan kaum laki-laki. Stigma inilah yang coba dihapus oleh Baiq Cici Dwi Artasih yang kini menempuh pendidikan di Jurusan Software Teknologi, Fakultas Teknik, Yangzhou Polytechnic College (YPC), Tiongkok. Bahkan cewek asal Lombok Tengah ini sukses di lomba International Coding Interperince (ITPC).
ALI ROJAI, Mataram
Baiq Cici Dwi Artasih saat ini sedang libur Lebaran di kampung halamannya di Kuta, Lombok Tengah, NTB. Dia salah satu mahasiswi Yangzhou Polytechnic College (YPC), Tiongkok.
Dara 21 tahun begitu ramah. Ia cukup mahir bahasa Mandarin. Pada lomba International Coding Interperince (ITPC) beberapa waktu lalu yang diikuti 40 mahasiswa dari 24 negara ia menjadi runner-up. Peserta lomba bukan hanya mahasiswa dari kampus di Tiongkok saja, melainkan ada 24 kampus di dunia. “Lombanya ini seminggu,” cetus alumni SMAN 5 Mataram ini.
Pada lomba ini ia membuat aplikasi terkait pembayaran pembisnisan belanja online. Mirip Shopee, Lazada, Tokopedia. “Lombanya dua hari, tapi persiapannya empat hari. Saya membawa nama kampus pada lomba ini,” ujar Cia, sapaan karibnya.
Pada saat pengumuman pemenang ia tidak menyangka meraih juara dua. Juara pertama pada lomba ini diraih mahasiswa dari Jepang. Namun demikian ia memiliki peluang mengikuti lomba coding tingkat dunia tahun depan.
“Dari kampus diminta ikut lomba coding tingkat dunia tahun depan. Kita dipertimbangkan ikut,” tutur alumni SMPN 10 Mataram ini.
Cia ditunjuk kampus mengikuti ITPC bukan asal-asalan. Cia merupakan salah satu mahasiswa internasional yang nilainya selama kuliah cukup bagus. “Kami di satu kelas ada lima mahasiswa internasional,” ucap dara berkulit putih ini.
Fakultas Teknik jurusan Software Teknologi sebagian besar digeluti laki-laki. Jurusan yang dipilih anak kedua pasangan Lalu Suherlan-Baiq Mayani jarang digeluti kaum hawa. “Pingin buktiin kalau cewek bisa pilih jurusan teknik,” katanya.
Bagi Cia, jurusan Sofware Teknologi bukan hanya untuk laki-laki saja. Melainkan perempuan juga bisa memilih fakultas teknik. Menurutnya, perempuan tidak mesti harus memilih fakultas ekonomi, hukum, atau pun jurusan psikologi. Melainkan bisa memilih jurusan yang ada di fakultas teknik.
“Banyak teman-teman memilih jurusan psikologi padahal fashion-nya di teknik. Mereka kadang menutup mata,” katanya.
Ia merasa ilmu software teknologi cukup seru. Ilmu ini mulai digeluti saat duduk dibangku kuliah. Awalnya ia menyukai ilmu ekonomi bisnis, namun setelah mempelajari teknik, terutama yang berkaitan dengan informasi teknologi (IT) ia menemukan hobinya. “Ternyata fashion saya ini di IT,” ucapnya.
Ia tertarik kuliah ke YPC selain untuk mendapat pengalaman. Juga karena peluang kerja yang dinilai cukup menjanjikan. Untuk mendapat beasiswa dari YPC ia harus menguasai 2.500 kosakata bahasa Mandarin. Sehingga mau tidak mau ia banyak belajar.
“Waktu itu skor untuk bahasa Mandarin minimal 180. Kalau di bawah itu ndak bisa menerima beasiswa. Kebetulan waktu itu skor bahasa Mandarin saya 280,” terang anak kedua dari empat bersaudara ini.
Dimata orang tuanya Cia dianggap anak yang nekat. Buktinya ia satu-satunya lulusan Smala sebutan SMAN 5 Mataram yang mendaftar beasiswa di YPC. Ia diminta orang tuanya untuk tidak ragu dalam menentukan pilihan. “Pesan mamiq (ayah) jika ambil keputusan jangan ragu. Ini keputusan kamu dan jangan setengah-setengah. Kalau kuliah di Cina harus selesai,” kata Cia menguraikan pesan orang tuanya.
Awalnya ia ingin kuliah di Jerman karena dulu orang tuanya pernah bekerja di negara tersebut. Namun ia berubah haluan memilih mendaftar beasiswa di YPC. “Saya lulus SMA 2019,” cetusnya.
Menurut dia, belajar di Tiongkok dengan di Indonesia beda. Di Tiongkok jam belajar cukup padat. Hampir 24 jam. Jarang ada jam istirahatnya. “Di China (Tiongkok) jarang kita lihat pemuda santai atau nongkrong. Paling kita lihat anak-anak, itu pun saat pulang sekolah,” tuturnya.
Jurusan Sofware Teknologi di kelasnya ada 30 mahasiswa dari berbagai negara. Pembelajaran dilaksanakan lima hari dalam seminggu. “Hari Sabtu dan Minggu libur,” ujar Cia.
Kendati demikian asrama yang ditempatinya cukup ketat. Setiap sudut ada satpam. Sehingga jika ada mahasiswa yang telat pulang akan ketahuan. “Ketat kehidupan di sana (Tiongkok),” skata Cia dengan nada agak kesal.
Cia terbang ke Tiongkok pada awal 2023 lalu. Sebelumnya proses perkuliahan dilakukan secara online di Surabaya karena merebaknya Covid-19. “Lama di Surabaya kita belajar,” cetus perempuan semester tujuh ini.
Perjalanan kuliah di Tiongkok tidak selalu berjalan mulus. Ketika ada masalah ia kerap menelepon kakaknya untuk curhat. Terutama terkait kehidupan yang kebanyakan orang sibuk mengurus diri masing-masing. Ia Jenuh. Namun kakaknya terus menyemangatinya. “Masak kalah sama TKW,” kata kakaknya menyemangatinya. (*/r5)
Editor : Rury Anjas Andita