Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Habis-habisan Serang Palestina, Israel Akui Alami Tekanan Fiskal

Kimda Farida • Selasa, 14 November 2023 | 20:27 WIB
BIAYA BESAR: Pasukan Israel saat melakukan penyerangan di wilayah Palestina. (Tangkapan Layar Twitter @WizardSXO)
BIAYA BESAR: Pasukan Israel saat melakukan penyerangan di wilayah Palestina. (Tangkapan Layar Twitter @WizardSXO)

LombokPost--Pemerintah Israel dikabarkan merasakan goncangan ekonomi sejak melakukan invasi besar-besaran ke Palestina dalam satu bulan terakhir.

Dilansir dari Bloomberg News, konflik ini membuat negara tersebut mengeluarkan lebih banyak dana dari perkiraan awal.

“Meskipun ekonomi Israel kuat dan stabil, tidak diragukan lagi bahwa perang ini akan memiliki implikasi-implikasi fiskal dan menimbulkan tekanan-tekanan anggaran,” kata Gubernur Bank Sentral Israel Amir Yaron.

Yaron menekankan bahwa Israel memasuki perang dengan pijakan fiskal yang kuat, dengan rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) di bawah 60 persen. Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan bahwa rasio ini akan turun lebih jauh menjadi sekitar 55 persen pada tahun 2025.  

Sementara Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich mengatakan bahwa anggaran negara untuk tahun fiskal ini akan meningkat 35 miliar shekel (sekitar US$9 miliar) dari proyeksi awal. Sebagian besar dari peningkatan itu, sekitar 63 persen akan digunakan untuk belanja militer.

Bank Sentral Israel telah memangkas proyeksi ekonominya sejak perang dengan Hamas dimulai lebih dari sebulan yang lalu. Lewat pertemuan suku bunga terakhirnya pada 23 Oktober, bank ini mengatakan bahwa PDB tetap akan naik 2,3 persen pada 2023 dan 2,8 persen pada 2024.

Namun angkanya menurun dari perkiraan sebelumnya sebesar 3 persen untuk kedua tahun tersebut.

Bank of Israel juga mempertahankan suku bunga utamanya pada 4,75 persen, menghindari pemangkasan sebagai upaya membantu shekel. Mata uang ini, serta saham dan obligasi Israel, terperosok usai perang meletus, namun telah pulih dalam 10 hari terakhir. Shekel kini telah menutup semua kerugiannya. 

Hal ini sebagian karena dukungan bank sentral menjual lebih dari US$8 miliar cadangan devisa di bulan Oktober dan juga karena meningkatnya optimisme di antara para trader bahwa perang di Gaza akan terkendali. (ksj)

Editor : Kimda Farida
#dampak perang #Israel #Bank Sentral Israel #Palestina