LombokPost-Tentara Israel yang terus menerus memborbardir dalam beberapa terakhir mengakibatkan terbunuhnya seluruh keluarga saat mereka berkumpul di rumah mereka, tempat penampungan PBB atau bahkan tidur di jalanan.
Sejak Minggu, Israel semakin menginsentifkan serangannya di wilayah tengah Jalur Gaza. Akibat langsungnya adalah pembantaian di kamp pengungsi Maghazi, yang menewaskan lebih dari 70 warga Palestina dan melukai ratusan lainnya.
Kemudian, pemboman Israel meluas hingga mencapai kamp pengungsi Bureij dan Nuseirat, juga di Gaza tengah.
Kamp pengungsi terakhir ini telah menjadi sasaran serangan Israel dengan intensitas besar sejak dimulainya perang membuat ribuan orang tewas dan terluka.
The Palestine Chronicle berkesempatan mewancarai Mohammed Zayed, seorang pengungsi muda dari Nuseirat, yang rumah keluarganya menjadi sasaran serangan Israel pada Kamis, 21 Desember.
Saya sedang duduk bersama ayah, ibu dua saudara perempuan saya, dan putra-putra saya Hussein dan Mus’ab.
Baca Juga: Tim PPS Kejati NTB Pastikan Semua Proyek Strategis on the Track
Kami baru saja selesai menunaikan salat ashar. Kami duduk dan mulai membicarakan kapan perang ini akan berakhir.
Anak bungsu saya, Mu’ath, sedang bermain di luar rumah. Tiba-tiba terjadi ledakan dahsyat akibat rudal Israel yang menghantam rumah. Saya terbangun.
Ketika saya bangun, saya dibalut seluruhnya. Hal pertama yang saya katakan,"Apa yang terjadi dengan keluarga saya?
Baca Juga: Libur Natal dan Tahun Baru, Wisatawan Domestik Dominasi Kunjungan ke Gili
Dokter berkata, jika Anda bisa berjalan, kami ingin Anda datang ke ruanganyang didedikasikan untuk para syuhada, melihat apakah Anda bisa mengenali mereka. Mimpi burukku menjadi kenyataan.
Yang pertama saya kenali adalah ibu, lalu ayah saya. Rudal Israel telah memisahkannya menjadi dua bagian. Kemudian, saya mengenali saudara perempuan saya, dia adalah seorang siswa sekolah menengah.
Saya takut mengangkat selimut martir keempat. Saya mengumpulkan keberanian dan melepaskan selimut.
Itu anakku Mus'ab. Dia duduk di kelas lima. Sayang kecil favoritku. Dia begitu dekat denganku, dan aku selalu menjaganya di dekatku. Sebuah rudal Israel telah membawanya pergi dariku selamanya.
Selain empat orang tewas, istri saya terluka. Anak saya Mu’ath baik-baik saja karena jaraknya beberapa meter dari rumah. Saya menemukannya terisak-isak, bertanya tentang ibu dan ayahnya.
Kemudian, saya menemukan saudara laki-laki saya Shadi, dia berada di luar rumah pada saat ledakan terjadi tetapi saya tidak dapat menemukan anak saya Hussein.
Baca Juga: Pemprov NTB Raih Penghargaan Ombudsman RI
Saya mencarinya kemana-mana di Rumah Sakit Al-Awda di Nuseirat tetapi saya tidak dapat menemukannya.
“Kemudian saya meminta petugas ambulans untuk mengantar saya ke rumah sakit lain untuk melihat apakah ada anggota keluarga lain di sana.
Mereka membawa saya ke Rumah Sakit Martir Al-Aqsa. Saya menemukan anak saya Hussein. Dia terluka. Dia dalam kondisi kritis.
Baca Juga: Bappeda Gamang Pasang Target Penurunan Miskin Ekstrem
Pecahan peluru itu mengenai kepala dan perutnya. Dia masih berada di unit perawatan intensif antara hidup dan mati.
Ayah saya bekerja di badan pengungsi PBB UNRWA. Dia bekerja di UNRWA sudah bertahun-tahun.
Ibuku adalah wanita yang baik hati, dicintai semua orang. Semua orang yang ada di rumah saat ini adalah orang baik.
Pendudukan Israel telah merampas semua yang kami sayangi. Kapan perang ini akan berhenti?
Kapan kejahatan Israel akan berhenti? Semua pikiranku saat ini terfokus pada anakku Hussein. Saya ingin dia hidup. Saya ingin perang ini berhenti sepenuhnya.
Editor : Alfian Yusni