Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Israel Ketakutan! Rakyat Memohon Iran Hentikan Perang, Menteri Malu, Negara Nyaris Lumpuh

Alfian Yusni • Sabtu, 21 Juni 2025 | 08:58 WIB
Iran menyatakan bahwa serangan balasan mereka adalah hak membela diri. (istimewa)
Iran menyatakan bahwa serangan balasan mereka adalah hak membela diri. (istimewa)

LombokPost - Perang besar antara Israel dan Iran memasuki babak paling mencekam. Rakyat Israel kini tak lagi menyembunyikan ketakutan.

Mereka memohon-mohon kepada Iran untuk menghentikan perang yang telah menewaskan ratusan orang, menghancurkan rumah sakit, dan membuat para pejabat negeri itu malu dan frustrasi.

Serangan terbaru dari Iran menghantam Rumah Sakit Soroka di Beersheba, selatan Israel. Lebih dari 240 orang luka-luka, termasuk pasien dan staf medis.

Serangan ini dianggap Israel sebagai kejahatan perang, karena menargetkan fasilitas kesehatan secara langsung.

Tak lama setelahnya, militer Israel membalas dengan membombardir situs strategis di Iran, termasuk reaktor nuklir Arak dan fasilitas rahasia di Natanz.

Sementara itu, rakyat Israel menangis di jalanan, kehilangan keluarga, dan banyak yang mengalami trauma mendalam.

“Kami lelah... tolong hentikan perang ini,” ujar seorang warga Tel Aviv kepada media lokal. Tagar #StopIran dan #PeaceForIsrael pun sempat trending di berbagai platform sosial media.

Iran Disebut Menang, Menteri Israel Mengaku Malu

Pejabat tinggi Israel mulai goyah. Menteri Dalam Negeri Israel dilaporkan menyampaikan kekhawatirannya dalam rapat darurat kabinet.

Dia mengatakan, bahwa publikasi luas kehancuran ini membuat Israel tampak kalah dan dipermalukan di mata dunia. "Kita tidak hanya kalah senjata, tapi kalah narasi," ujarnya seperti dikutip media lokal.

 

Di pihak lain, Iran menyatakan bahwa serangan balasan mereka adalah hak membela diri.

Lebih dari 657 warga Iran dilaporkan tewas akibat serangan udara Israel yang menghantam berbagai titik strategis, termasuk fasilitas sipil.

Ribuan orang melarikan diri dari Tehran ke wilayah utara karena takut akan serangan lanjutan.

 Baca Juga: Gila! Trump Luncurkan ETF Bitcoin dan Ethereum, Siap Jegal BlackRock di Bursa Kripto 

AS Tunda Intervensi, Dunia Serukan Damai

Presiden AS menunda keputusan untuk ikut terlibat dalam konflik ini. Sementara itu, PBB dan Uni Eropa mendorong jalur diplomatik.

Di Genewa, pertemuan darurat digelar antara perwakilan Iran dan negara-negara Eropa untuk mencari jalan damai.

Namun, ancaman Israel terhadap Pemimpin Tertinggi Iran membuat perundingan sulit mencair.

“Kalau perlu, kami akan hentikan perang ini dengan memusnahkan sumbernya,” kata Menteri Pertahanan Israel. “Tehran bukan tak mungkin jadi target berikutnya.”

Kepanikan dan Trauma Warga Meningkat

Ketegangan Israel dan Iran kian menguras emosi warga sipil. Di Israel, sirene peringatan berbunyi nyaris tanpa henti.

Warga hidup dalam ketakutan dan panik setiap saat. Banyak yang tinggal di bunker dan tak bisa bekerja. Anak-anak trauma, dan sistem kesehatan mulai lumpuh.

“Kami tak pernah membayangkan Iran akan membalas sekuat ini,” ujar seorang analis militer dalam wawancara televisi.

“Ini bukan lagi sekadar serangan. Ini adalah pengakuan diam-diam bahwa Iran menang secara strategis.” (***)

Editor : Alfian Yusni
#kejahatan perang #Menangis #rakyat Israel #malu dan frustrasi #israel dan iran