LombokPost - Sirivat Voravetvuthikun dulu dikenal sebagai salah satu miliarder Thailand dari bisnis saham.
Namun krisis moneter 1997 mengubah segalanya. Investasinya hangus, utangnya membengkak hingga setara Rp500 miliar.
Sirivat pun dinyatakan bangkrut. Kehidupan jetset yang dulu ia nikmati, seketika lenyap. Demi bertahan hidup, ia turun ke jalanan menjual roti lapis keliling.
Kisah Sirivat Voravetvuthikun ini jadi viral kembali di berbagai media Thailand dan Asia Tenggara. Mantan miliarder Thailand ini tak malu menyandang status sebagai tukang roti.
Bahkan kini, ia dikenal sebagai tukang roti terkaya di Thailand. Dari penghasilan hanya belasan dolar per hari, ia perlahan bangkit.
Uang dari hasil jualan roti diputar untuk membuka kedai kopi, lalu usaha katering. Pelan tapi pasti, ia membangun merek miliknya sendiri: Sirivat Sandwich.
Logo bisnisnya tak main-main. Ia mencantumkan ikon mata uang Baht dan simbol IMF, sebagai pengingat dari masa kejatuhan ekonomi.
Filosofinya sederhana: tak malu jatuh asal mau bangkit. Kini, bisnis sandwich miliknya mempekerjakan hingga 70 karyawan, memproduksi ribuan sandwich dan sushi tiap hari, serta telah membuka dua kedai di pusat kota Bangkok.
“Awalnya saya malu, tapi saya lebih takut kelaparan,” ujar Sirivat dalam wawancara dengan media lokal.
Ia bahkan masih kerap turun langsung berjualan sandwich sendiri, bukan karena harus, tapi sebagai bentuk penghargaan atas perjalanan bangkit dari nol.
Tak cuma sukses secara finansial, kisah inspiratif tukang roti ini jadi studi kasus kewirausahaan di Thailand.
Lebih dari 121 media internasional dan 262 media lokal pernah mewawancarainya, termasuk CNN, BBC, AP, hingga New York Times.
Ia kini merancang ekspansi bisnis ke Chiang Mai dan Hat Yai, serta membuka peluang waralaba dan masuk bursa saham Thailand.
Kisah Sirivat Voravetvuthikun membuktikan bahwa mantan miliarder Thailand ini bukan hanya bangkit, tapi bertransformasi menjadi inspirasi.
Dari mantan konglomerat bangkrut menjadi tukang roti sukses, Sirivat membalik takdir dengan kerja keras dan ketekunan.
Dari bangkrut jadi sukses, Sirivat menunjukkan bahwa modal terbesar dalam bisnis bukan uang, tapi keberanian untuk memulai lagi dari nol. (***)
Editor : Alfian Yusni