Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

YouTube Bebas Blokir Usia di Australia! eSafety Geram, Ungkap Konten Berbahaya untuk Anak

Alfian Yusni • Rabu, 25 Juni 2025 | 12:12 WIB
Komisioner eSafety Julie Inman Grant mengatakan, anak-anak tetap terekspos konten berbahaya lewat YouTube, mulai dari kekerasan, teori konspirasi, hingga misogini. (istimewa)
Komisioner eSafety Julie Inman Grant mengatakan, anak-anak tetap terekspos konten berbahaya lewat YouTube, mulai dari kekerasan, teori konspirasi, hingga misogini. (istimewa)

LombokPost - YouTube jadi satu-satunya platform yang dikecualikan dari larangan media sosial untuk anak di bawah 16 tahun di Australia.

Padahal, riset menunjukkan YouTube juga menyajikan banyak konten berbahaya. Komisioner eSafety Australia pun buka suara dan menilai keputusan ini tidak adil.

Mulai 10 Desember 2025, Australia bakal memberlakukan undang-undang ketat untuk memblokir akses media sosial bagi anak di bawah 16 tahun.

Platform besar seperti TikTok, Snapchat, Facebook, dan Instagram diwajibkan menerapkan pembatasan usia, atau menghadapi sanksi denda besar. Namun, YouTube justru dikecualikan dari aturan ini.

Pemerintah Australia menyebut YouTube banyak digunakan untuk pendidikan dan informasi kesehatan.

Tapi eSafety Australia menentangnya. Komisioner Julie Inman Grant mengatakan, anak-anak tetap terekspos konten berbahaya lewat YouTube, mulai dari kekerasan, teori konspirasi, hingga misogini.

Berdasarkan riset eSafety, 37 persen anak usia 10-15 tahun mengaku pernah melihat konten berbahaya di YouTube, lebih tinggi dari platform lain.

Dalam pidatonya di National Press Club, Inman Grant menyebut algoritma YouTube sangat persuasif dan menyeret anak-anak ke dalam "lubang kelinci" konten negatif.

YouTube membantah keras. Dalam blog resminya, manajer kebijakan publik YouTube untuk Australia dan Selandia Baru, Rachel Lord, menyebut eSafety mengabaikan fakta bahwa 69 persen orang tua menganggap YouTube aman bagi anak di bawah 15 tahun. Namun, para peneliti dan akademisi tetap bersuara lantang.

Enam pakar kesehatan mental dan ekstremisme memperingatkan bahwa pengecualian YouTube justru melemahkan tujuan utama undang-undang larangan media sosial untuk anak di bawah 16 tahun.

 

Menurut mereka, YouTube memfasilitasi penyebaran konten ekstremisme sayap kanan, kekerasan, bahkan pornografi.

Dosen Macquarie University, Lise Waldek, menilai algoritma YouTube sangat adiktif dan berpotensi merusak.

Helen Young dari Addressing Violent Extremism Network juga menyebut anak laki-laki dan remaja pria paling rentan disasar konten misoginis.

Dalam investigasi Reuters, tiga akun anak-anak palsu yang dibuat untuk menguji algoritma YouTube berhasil diarahkan ke konten konspirasi dan misoginis hanya dalam waktu 20 klik.

Bahkan, hasil pencarian "Sejarah Eropa" dapat memunculkan konten rasis dalam waktu 12 jam.

YouTube menghapus satu video neo-Nazi dan menutup satu akun misoginis setelah diprotes. Namun, empat video lainnya tetap tayang.

Menteri Komunikasi Australia, Anika Wells, mengatakan pemerintah masih menimbang saran dari eSafety. Namun ia menegaskan, perlindungan anak tetap prioritas utama.

Di sisi lain, keputusan untuk tetap mengecualikan YouTube dari larangan media sosial bagi anak di bawah 16 tahun terus menuai kritik.

Banyak pihak khawatir bahwa langkah ini membuka celah bagi konten berbahaya tetap mengalir, dan menjadikan YouTube sebagai "zona bebas sensor" di tengah gempuran algoritma yang semakin sulit dikendalikan. (***)

Editor : Alfian Yusni
#konten berbahaya #eSafety #anak di bawah 16 tahun #australia #blokir #YouTube #medsos