Agus Mustofa: Kalau Nuklir Ditekan, Bumi Bisa Gelap dan Manusia Punah
Lalu Mohammad Zaenudin• Sabtu, 19 Juli 2025 | 13:17 WIB
Ilustrasi ledakan nuklir mengancurkan sebuah kota
12.500 Senjata Nuklir Siap Ledak: Apakah Dunia Menuju Kiamat?
LombokPost — Ancaman perang nuklir global bukan lagi sekadar fiksi ilmiah. Menurut Agus Mustofa, seorang ilmuwan nuklir Indonesia dan cendekiawan muslim, dunia hari ini menyimpan cukup banyak senjata nuklir untuk menghancurkan seluruh peradaban dalam hitungan hari.
“Kalau kita hitung jumlah hulu ledak nuklir yang dimiliki oleh 9 negara itu, kurang lebih ada sekitar 12.500 hulu ledak nuklir. Apa jadinya kalau ini digunakan semuanya untuk perang nuklir secara terbuka?” katanya.
Agus Mustofa menyampaikan analisisnya dengan menyitir data jumlah senjata nuklir aktif yang siap digunakan dalam waktu dekat, terutama dalam konteks kemungkinan pecahnya Perang Dunia.
Dari total 12.500 hulu ledak yang dimiliki oleh sembilan negara (Rusia, AS, China, Prancis, Inggris, India, Pakistan, Israel, dan Korea Utara), menurut Agus Mustofa, hanya sepertiganya yang siap digunakan secara instan.
“Dalam hitungan para pengamat nuklir, yang bisa digunakan secara aktif seketika kira-kira sepertiganya,” ujarnya.
“Selebihnya harus diaktivasi kembali, sehingga kalau kita hitung, kira-kira sepertiga dari itu kurang lebih 4.000 hulu ledak nuklir itu bisa digunakan sekarang ini secara aktif seketika dibutuhkan di dalam perang dunia yang ketiga," ucapnya.
Efek Langsung: Ratusan Kota Bisa Lenyap Seketika
Agus Mustofa mengajak publik untuk merenungi kembali efek historis dari bom nuklir di Hiroshima, Jepang, sebagai pembanding sederhana.
“Dalam sejarah ledakan bom nuklir, maka sering kali pengamat nuklir itu mengukurnya dengan ledakan yang pernah terjadi di Jepang, di Hiroshima," ujanrnya.
Ia menjelaskan bahwa bom yang dijuluki Little Boy itu memiliki berat total 4,5 ton, namun hanya membawa 64 kg uranium-235 sebagai hulu ledak utama.
“Ledakannya itu luar biasa dahsyatnya. Radius sekitar 1,6 kilometer dari titik ledakan itu mengalami dampak kerusakan secara langsung. Korbannya diperkirakan sekitar 140.000 orang tewas,” ujarnya.
Jumlah itu belum termasuk korban radiasi dan dampak genetis berkepanjangan.
Kini, menurutnya, senjata nuklir modern ribuan kali lebih kuat dari bom Hiroshima.
“Yang sekarang dimiliki oleh negara-negara di dunia, nuklirnya itu ribuan kali lipat dari yang meledak di Hiroshima," ucapnya.
Kota-Kota Dunia Bisa Hangus: Asia, Amerika, Timur Tengah Terancam
Jika terjadi perang nuklir global secara terbuka, Agus Mustofa menyebut skenarionya sangat mengerikan.
“Diperkirakan kalau terjadi perang nuklir secara terbuka dalam skala yang luas di muka bumi ini, maka antara 100 sampai 500 kota-kota besar di berbagai benua itu akan mengalami serangan hulu ledak nuklir," katanya.
Ia menyebut kawasan seperti Amerika, Rusia, Timur Tengah, China, Korea, hingga sebagian Asia berpotensi besar menjadi sasaran.
Dampaknya disebut akan sangat masif. “Yang pertama terjadi kematian ratusan juta jiwa… itu terjadi seketika, diakibatkan karena kekuatan ledakan yang sangat besar," ujarnya.
Selain ledakan, ada dua dampak langsung lainnya yang tak kalah mematikan: radiasi nuklir dan gelombang panas.
“Radiasi yang luar biasa tingginya langsung bisa mematikan makhluk hidup, dan gelombang panas membakar dalam radius beberapa kilometer," paparnya.
Efek Tidak Langsung: Kelaparan Global dan Kematian 5 Miliar Jiwa
Agus Mustofa menegaskan, perang nuklir tidak hanya membunuh lewat ledakan langsung. Efek tidak langsungnya jauh lebih menakutkan.
“Akan memunculkan awan hitam, memunculkan debu radioaktif yang akan menutupi atmosfer di seluruh muka bumi ini,” jelasnya.
Akibatnya, sinar matahari tak bisa menembus atmosfer. Suhu bumi akan menurun antara 2 hingga 5 derajat, dan dalam waktu singkat akan terjadi gagal panen global.
“Diperkirakan akan memunculkan masalah kelaparan yang sangat akut. Menyebabkan kematian bisa sampai mencapai sekitar 5 miliar kematian dikarenakan gagal panen dan kelaparan yang akut itu,” katanya.
Ia menyebut hal ini bukan asumsi semata. Prediksi tersebut bersumber dari riset Princeton dan Rutgers pada tahun 2022.
Efek Ketiga: Kepunahan Massal Spesies di Bumi
Selain manusia, kata Agus Mustofa, seluruh ekosistem bumi bisa runtuh. Ia menyebut akan terjadi kehancuran total terhadap flora dan fauna.
“Yang ketiga, efek tidak langsungnya adalah terjadi kepunahan massal spesies-spesies di muka bumi,” ucapnya.
Bukan hanya manusia, “tetapi pada binatang-binatang, pada pepohonan, pada tumbuhan, dan segala macam terjadi kepunahan massal," terangnya.
Lebih jauh, Agus Mustofa mengaitkan potensi kiamat nuklir ini dengan ketegangan Israel dan Iran.
“Karena itu berbagai negara itu cenderung untuk menghalangi terjadinya eskalasi dari perang antara Israel dengan Iran,” jelasnya.
Menurutnya, konflik ini melibatkan negara-negara besar pemilik senjata nuklir. Jika salah satu pihak terpancing secara emosional dan menekan tombol nuklir, maka efeknya bisa berujung pada perang dunia.
“Jika itu tidak dihalangi, kemudian terjadi kecelakaan secara politis atau bahkan secara teknis pada persenjataan itu — terpencet salah satunya — atau karena emosi tertentu salah satunya menggunakan nuklir, maka itu akan bisa menyulut perang dunia ke-3 secara terbuka yang efeknya sangat mengerikan itu," ungkap penulis buku best seller Serial Diskusi Tasawuf Modern ini.