Menurut Deputi Operasi Angkatan Darat Iran, Laksamana Muda Mahmoud Mousavi, dalam pernyataannya Minggu (14/7), sistem pertahanan udara Iran dan radar-radar militer menjadi target pertama dalam serangan yang ia sebut sebagai tindakan pengecut oleh Zionis.
"Musuh Zionis berusaha menghancurkan kemampuan pertahanan Iran, dan beberapa sistem pertahanan kami rusak dalam perang ini," tegas Mousavi.
Namun, kata dia, Iran berhasil mengganti sistem pertahanan udara yang rusak dengan sistem baru. Perangkat tersebut langsung ditempatkan di lokasi strategis guna memastikan langit Iran tetap aman. “Namun, berkat upaya rekan-rekan saya, sistem yang rusak diganti dan ditempatkan di lokasi yang telah ditentukan,” lanjutnya.
Baca Juga: Iran Siap Tempur Jika Israel Langgar Gencatan Senjata
Dengan gabungan sistem pertahanan udara Iran yang lama dan baru, militer Teheran mampu menggagalkan tujuan utama musuh. Mousavi juga menegaskan bahwa Israel tidak sendiri dalam aksi militer ini. Amerika Serikat dan NATO disebut turut membantu dengan menyuplai intelijen militer.
"Kapasitas Angkatan Bersenjata Iran berada di luar jangkauan rezim Zionis yang tidak sah. Namun, para pendukung rezim perampas kekuasaan ini telah membantu selama berbulan-bulan... dan kami menganggap AS terlibat dalam kejahatan rezim Zionis," ujar Mousavi.
Ia juga menyoroti dukungan rakyat Iran terhadap militer negaranya selama masa agresi. Menurutnya, kebersamaan rakyat dan militer menjadi modal besar dalam mempertahankan negara dari serangan asing.
Agresi militer dimulai pada 13 Juni, saat Israel meluncurkan serangan ke Iran secara terang-terangan. Sedikitnya 1.060 orang tewas, termasuk komandan militer, ilmuwan nuklir, dan warga sipil. Seminggu kemudian, giliran Amerika Serikat mengebom tiga lokasi nuklir Iran, pelanggaran serius terhadap hukum internasional.
Baca Juga: Iran Tolak Inspeksi Nuklir oleh IAEA, Trump Akan Bahas dengan Netanyahu
Sebagai respons, Angkatan Bersenjata Iran membalas dengan serangan rudal ke wilayah pendudukan Israel dan pangkalan militer AS di al-Udeid, Qatar, yang merupakan basis terbesar AS di Asia Barat.
Pada 24 Juni, Iran menyatakan berhasil menghentikan serangan dan operasi teroris lewat aksi balasan militer terkoordinasi. Langkah ini menegaskan bahwa Iran tak gentar hadapi serangan Israel-AS, dan siap melindungi kedaulatan hingga titik terakhir.
Editor : Redaksi Lombok Post