Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Eksekusi Publik Makin Brutal, Korea Utara Tembak Mati Warga Gara-Gara Film Asing

Alfian Yusni • Rabu, 17 September 2025 | 13:31 WIB
Korea Utara hari ini adalah negara yang menembak warganya gara-gara film. (istimewa)
Korea Utara hari ini adalah negara yang menembak warganya gara-gara film. (istimewa)

LombokPost - Korea Utara kembali menjadi sorotan dunia. Negara paling tertutup di Asia ini disebut semakin sering menjatuhkan hukuman mati terhadap warganya yang kedapatan menonton atau menyebarkan film asing.

Tidak main-main, mereka yang terbukti bersalah langsung dieksekusi regu tembak di depan publik.

Laporan terbaru Kantor Hak Asasi Manusia PBB yang dikutip Euronews, Reuters, hingga Al Jazeera menegaskan praktik ini meningkat tajam sejak Kim Jong Un berkuasa pada 2011.

Aturan semakin ketat diterapkan, terutama sejak 2020, ketika razia besar-besaran dilakukan untuk menutup akses rakyat pada konten luar negeri.

Hukuman Mati Gara-Gara Film Asing

Kata kunci “hukuman mati Korea Utara” dan “film asing” kini jadi sorotan dunia.

Kesaksian para pelarian yang diwawancarai PBB mengungkap, orang yang kedapatan menonton atau menyimpan drama Korea Selatan, film Hollywood, hingga sekadar video asing di USB, langsung diadili singkat. Hukumannya? Tembak mati di depan masyarakat.

Tujuannya jelas: menebar ketakutan. Rakyat yang melihat langsung eksekusi itu dipaksa percaya, bahwa menonton atau membagikan film asing sama dengan pengkhianatan.

“Itu adalah bentuk kontrol, untuk menghilangkan sekecil apa pun tanda ketidakpuasan,” ungkap salah seorang pelarian.

Kerja Paksa dan Kelaparan

Laporan PBB juga menyoroti masalah lain. Bukan hanya hukuman mati yang semakin brutal, tapi juga kerja paksa yang makin luas.

Baca Juga: Ferrari 365 GT4 BB, Mobil Langka dan Satu-Satunya di Singapura yang Jadi Incaran Kolektor Dunia

Anak-anak yatim, keluarga miskin, hingga warga desa dipaksa bekerja di tambang batu bara berbahaya tanpa perlindungan.

Sementara itu, krisis pangan semakin parah. Kebijakan pemerintah membuat kelaparan merajalela.

Warga hanya disuguhi propaganda tanpa henti, sementara perut mereka dibiarkan kosong. Hak dasar atas makanan pun terabaikan.

Baca Juga: 5 Hal Penting di Latihan Liverpool Jelang Lawan Atletico Madrid: Alexander Isak Siap Debut, Robertson atau Kerkez?

Dekade yang Hilang

Komisaris Tinggi HAM PBB, Volker Türk, menyebut 10 tahun terakhir sebagai “dekade yang hilang” bagi rakyat Korea Utara.

Menurutnya, represi makin parah, rakyat dicekik ketakutan, dan akses terhadap informasi semakin ditutup rapat.

Ratusan wawancara dengan pelarian dalam satu dekade terakhir membuktikan bahwa kondisi di Korea Utara kini jauh lebih buruk dibanding sebelumnya.

“Dan menyedihkan untuk saya katakan, jika Korea Utara terus berada di jalur yang sama, rakyatnya akan menghadapi penderitaan, penindasan brutal, dan ketakutan yang sudah terlalu lama mereka rasakan,” kata Türk.

Represi Semakin Canggih

Laporan yang sama juga mengungkap peningkatan pengawasan digital.

Aparat tidak hanya mengandalkan razia manual, tapi juga teknologi modern untuk melacak siapa saja yang menonton film asing.

 

Dari rumah ke rumah, dari sekolah hingga pabrik, razia dilakukan untuk menyita USB, laptop, bahkan radio gelap.

Korea Utara menolak menanggapi laporan ini. Namun catatan PBB, Human Rights Watch, hingga testimoni pelarian membuat gambaran makin jelas: hukuman mati, eksekusi publik, kerja paksa, hingga kelaparan kini menjadi bagian dari keseharian rakyat Korea Utara.

Ketakutan yang Tak Pernah Usai

Bagi rakyat Korea Utara, hidup berarti tunduk. Dari lahir sampai mati, mereka dijejali propaganda bahwa dunia luar adalah musuh.

Setiap bentuk perbedaan, bahkan hanya sekadar menonton film asing, dicap sebagai pengkhianatan. Hukuman mati menjadi alat untuk memastikan ketakutan itu terus hidup.

Korea Utara hari ini adalah negara yang menembak warganya gara-gara film.

Negara yang memaksa anak yatim masuk tambang demi batu bara. Negara yang menutup mata dan telinga rakyat dari dunia luar.

Dan semua itu terjadi di abad ke-21, ketika dunia lain sedang bicara soal kecerdasan buatan dan era digital. (***)

Editor : Alfian Yusni
#film asing #Hukuman Mati #korea utara