LombokPost- Dukungan dunia pada kemerdekaan Palestina makin kuat.
Sidang majelis umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang dimulai hari ini bakal menyatakan pengakuan secara resmi pada Palestina sebagai negara yang merdeka dan berdaulat.
Delegasi Indonesia yang dipimpin langsung oleh Presiden Prabowo Subianto dipastikan menjadi bagian dari negara-negara yang mendukung kemerdekaan Palestina.
Dukungan pada kemerdekaan Palestina sejatinya sudah tampak dalam resolusi PBB yang ditetapkan pada Jumat (12/9) lalu.
Resolusi itu sepakat mengadopsi deklarasi New York yang mendukung penyelesaian konflik Gaza melalui two state solution atau solusi dua negara. Resolusi itu sekaligus menjadi pengakuan pada Palestina sebagai negara yang berdaulat.
Waktu itu, sebanyak 142 negara anggota PBB menyatakan mendukung resolusi. Hanya 10 negara yang menolak dan 12 lainnya memilih abstain. Dalam sidang majelis umum PBB hari ini, jumlah negara yang mendukung Palestina diprediksi bertambah.
Dilansir dari AFP, AS dan Israel tetap ngotot menolak mengakui negara Palestina. AS bahkan menolak memberikan visa pada 90 anggota delegasi Palestina, termasuk Presiden Palestina Mahmoud Abbas. Sikap AS itu membuat Mahmoud dijadwalkan berpidato melalui video.
Pertemuan hari ini bakal mematangkan kembali konsep two state solution untuk menghentikan pembantaian di Gaza. Sejumlah negara barat, termasuk Kanada, Prancis, Inggris, Belgia, dan Australia, sudah menyatakan bakal mengakui Palestina sebagai negara yang berdaulat.
Hal itu ditegaskan kembali oleh Presiden Prancis Emmanuel Macron. Dia mengatakan, Prancis akan secara resmi mengakui negara Palestina saat Majelis Umum PBB bersidang. Langkah itu merupakan bagian dari upaya diplomatik untuk memberikan solusi dua negara. Keputusan itu dia susun bersama Arab Saudi selama enam bulan terakhir.
Negara-negara barat sepakat bahwa pembunuhan di Gaza harus dihentikan. Israel harus menarik mundur seluruh pasukannya dari Gaza. Dengan begitu, pembangunan kembali Gaza bisa segera dimulai.
''Pengakuan pada negara Palestina telah mendapat dukungan dari 145 negara," kata Macron.
Serangan masif militer Israel pada Palestina telah membuat negara itu hancur. Kota Gaza luluh lantak. Puluhan ribu warga Palestina meninggal. Sebagian besar korban adalah perempuan dan anak-anak. Israel sendiri menolak disebut melakukan genosida. Mereka selalu berdalih bahwa serangan itu hanya bertujuan menumpas Hamas.
Warga Israel Galang Petisi Rekonsiliasi
Sebagian warga Israel juga mengaku muak dengan perang. Mereka menolak pembunuhan warga Gaza oleh militer Israel. Warga Israel, Maoz Inon, bersumpah untuk menolak balas dendam meski orang tuanya tewas dalam serangan yang dilakukan Hamas.
Dia memilih jalan rekonsiliasi demi perdamaian Palestina dan Israel. Pria 49 tahun itu merupakan salah satu dari ribuan warga Israel yang kini menyerukan kepada masyarakat internasional untuk secara resmi mengakui Negara Palestina menjelang pertemuan puncak PBB.
Menurut Inon, dialog, pengakuan, dan pengampunan di kedua belah pihak adalah kunci bagi masa depan yang damai.
"Dengan membalas kematian, kita tidak akan menghidupkan mereka kembali. Dan kita hanya akan memperparah siklus kekerasan, pertumpahan darah, dan balas dendam yang telah menjebak kita, bukan sejak 7 Oktober, melainkan selama seabad," ujarnya, dikutip dari AFP.
Menurut survei oleh Pew Research Centre, terdapat 21 persen orang dewasa Israel yang berpikir Israel dan negara Palestina dapat hidup berdampingan secara damai. Petisi kampanye yang diberi judul "Tidak untuk Perang - Ya untuk Pengakuan", telah mengumpulkan tanda tangan lebih dari 8.500 warga Israel. Panitia berharap dapat menyerahkan dokumen tersebut dengan 10.000 nama di Majelis Umum PBB.
Prabowo Pidato setelah Brasil dan AS
Setelah absen selama 10 tahun terakhir, Indonesia dipastikan hadir secara langsung dalam Sidang Majelis Umum ke-80 PBB. Isu soal kemerdekaan Palestina bakal jadi salah satu poin yang ditekankan dalam pidato yang disampaikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto.
Prabowo dilaporkan telah tiba di Bandar Udara Internasional John F. Kennedy, New York, Amerika Serikat (AS) pada Sabtu (20/9), sekitar pukul 16.50 waktu setempat. Dia didampingi oleh Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono dan Sekretaris Kabinet (Setkab) Teddy Indra Wijaya.
Dalam keterangan tertulisnya, Seskab Teddy mengatakan, Presiden Prabowo dijadwalkan menyampaikan pidato dalam sesi Debat Umum PBB, Selasa (23/9) mendatang. Presiden akan berpidato pada urutan ketiga. “Sesuai jadwal yang diterima, Presiden Prabowo akan menyampaikan pidato setelah Presiden Brasil dan Presiden Amerika Serikat,” ungkapnya, Minggu (21/9).
Menurut Teddy, event itu menjadi momentum penting bagi Indonesia. Selain kembali tampil di level tertinggi forum PBB, forum itu akan menjadi panggung untuk menyuarakan kepentingan negara berkembang dan memperkuat posisi diplomasi Indonesia di kancah global.
“Sidang Majelis Umum tahun ini menjadi momentum penting bagi Indonesia, tidak hanya untuk kembali tampil di level tertinggi pada forum PBB, namun juga untuk menegaskan posisi Indonesia sebagai pemimpin Global South yang konsisten menyuarakan agenda reformasi tata kelola dunia agar lebih adil dan inklusif,” paparnya.
Diaspora Bangga Prabowo Pidato di PBB
Kedatangan Prabowo disambut hangat para mahasiswa Indonesia di sana. Glory Lamria, mahasiswa Columbia University salah satunya. Dia mengaku kedatangan Presiden Prabowo kali ini terasa istimewa. Selain hadir langsung dalam SMU PBB, ia berharap agar kehadiran presiden bisa menjadi wadah aspirasi bagi diaspora-diaspora yang ada di Amerika Serikat.
“Yang pertama tentunya saya merasa bangga Presiden kita selama kurang lebih 10 tahun terakhir akhirnya bisa berkunjung ke New York dan menyampaikan aspirasi warga Indonesia secara general,” ungkapnya.
Sementara itu, Dimas, mahasiswa New York University menyebut, momen penyambutan ini menjadi kebanggaan tersendiri. Menurut Dimas, kesempatan Indonesia berbicara di forum dunia adalah hal yang membanggakan.
“Bangga sih, karena kan denger-denger juga kita urutan ketiga kan. Kita bisa berbicara di depan negara-negara penting lainnya, sebagai mahasiswa saya bangga sih,” ungkapnya. (idr/mia/oni/JPG/r3)
Editor : Siti Aeny Maryam