Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Kim Jong Un Bersedia Kembali Berunding dengan AS, Asalkan Tuntutan Denuklirisasi Dihentikan

Redaksi Lombok Post • Senin, 22 September 2025 | 14:08 WIB

SALING PUJI: Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un saling berjabat tangan dalam pertemuan sesi pembuka KTT kedua negara di Hanoi, Vietnam, kemarin (27/2). Ini pertemuan pemimpin negara yang tadinya berseteru, setelah p
SALING PUJI: Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un saling berjabat tangan dalam pertemuan sesi pembuka KTT kedua negara di Hanoi, Vietnam, kemarin (27/2). Ini pertemuan pemimpin negara yang tadinya berseteru, setelah p
LombokPost -- Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, mengisyaratkan kesediaannya untuk berunding dengan Amerika Serikat (AS), asalkan Washington menghentikan tuntutan agar negaranya menyerahkan senjata nuklir.

Pernyataan ini disampaikan dalam pidato di Majelis Rakyat Tertinggi di Pyongyang pada Minggu, seperti dilansir oleh Kantor Berita Pusat Korea (KCNA).

“Jika AS menghentikan obsesi yang tidak masuk akal untuk mendesak kami mendesakurisasi dan menerima kenyataan, serta ingin coeksistensi damai yang sejati, tidak ada alasan bagi kami untuk tidak duduk bersama AS,” kata Kim.

Dalam pidatonya, Kim Jong Un juga menyampaikan komentarnya tentang mantan Presiden AS, Donald Trump.

“Secara pribadi, saya masih memiliki kenangan indah tentang Presiden AS Trump,” ujarnya.

Komentar ini muncul setelah Trump dan Pemimpin Korea Selatan, Lee Jae-myung, menyatakan kesediaan mereka untuk bertemu dengan pemimpin Korea Utara dalam pertemuan di Gedung Putih bulan lalu.

“Suatu hari, saya akan bertemu dengannya. Saya menantikan pertemuan itu. Dia sangat baik kepada saya,” kata Trump saat itu.

Meski ada upaya dari Lee dan Trump, Korea Utara tetap kritis terhadap latihan militer bersama antara AS dan Korea Selatan, yang digambarkan sebagai “latihan invasi yang ceroboh” oleh Kim Yo Jong, saudara perempuan Kim Jong Un.


Dalam wawancara terpisah dengan BBC dan Reuters, Lee Jae-myung juga menyatakan keterbukaannya untuk bernegosiasi mengenai posisi negaranya.

Lee mengusulkan tujuan yang lebih “realistis”, yaitu agar Korea Utara setuju untuk menghentikan pengembangan senjata nuklir baru, daripada terus melakukan “upaya yang sia-sia” untuk membuatnya menyerahkan arsenal nuklir yang sudah ada.

“Selama kita tidak menyerah pada tujuan jangka panjang denuklirisasi, saya yakin ada manfaat yang jelas jika Korea Utara menghentikan pengembangan nuklir dan misilnya,” kata Lee.

Lee juga mengakui bahwa sanksi yang diberlakukan terhadap Pyongyang, yang kini diperkirakan menambah 15 hingga 20 senjata nuklir setiap tahun, gagal menyelesaikan masalah. Dalam pidatonya, Kim Jong Un juga menegaskan bahwa sanksi justru membuat negaranya lebih kuat dan tangguh.

“Tidak akan pernah ada, dan tidak akan pernah ada selamanya, negosiasi dengan musuh untuk menukar sesuatu demi obsesi mengangkat sanksi,” kata Kim.(*)

 

Editor : Redaksi Lombok Post
#nuklir #Korea Selatan #trump #kim jong un #korea utara