Venezuela resmi memasuki era baru yang sangat tidak menentu menyusul penangkapan mendadak Nicolás Maduro, presiden yang memimpin negara tersebut selama 12 tahun. Situasi ini memicu kecemasan luas di tengah masyarakat, terutama terkait arah pemerintahan selanjutnya.
Pantauan CNN (edition.cnn.com) menyebutkan, jalan-jalan di ibu kota Caracas dan sejumlah kota besar lainnya tampak lengang. Warga memilih bertahan di dalam rumah, sementara aparat keamanan berada dalam kondisi siaga tinggi. Meski demikian, hampir tidak terlihat aktivitas kelompok paramiliter pendukung pemerintah yang dikenal sebagai colectivos.
Bagi warga yang terpaksa keluar rumah, satu hal menjadi prioritas: menimbun kebutuhan pokok. Antrean panjang terlihat di supermarket dan apotek, meski belum tampak kepanikan berlebihan. Warga Venezuela memang terbiasa menyetok barang setiap kali krisis politik atau ekonomi terjadi.
Video yang diperoleh CNN pada Sabtu menunjukkan jalan-jalan yang nyaris kosong. “Tidak ada suara apa pun di jalan selain kicauan burung,” kata jurnalis Mary Mena, Minggu.
Pendukung oposisi dilaporkan merayakan situasi ini secara tertutup. Namun, belum ada aksi massa terbuka yang mendukung langkah Amerika Serikat. Menurut Mena, kelompok oposisi cenderung menahan diri sampai ada kejelasan dukungan dari pejabat pemerintah atau petinggi militer Venezuela.
Informasi dari luar Caracas masih terbatas. Reuters melaporkan antrean panjang bahan pangan di Maracaibo, pusat industri minyak Venezuela. Jairo Chacin (39), montir dan pemilik bengkel, mengaku keluar rumah karena khawatir terjadi penjarahan.
“Saya ingin mengisi bensin, tetapi SPBU sudah tutup. Jadi saya membeli makanan karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi,” ujarnya. “Perasaan saya campur aduk antara takut dan senang.”
Situasi serupa dirasakan di Maracay. “Rasanya seperti kota yang ditinggalkan. Orang-orang mengurung diri di rumah,” kata Alejandra Palencia (35), seorang psikolog. “Ada ketakutan dan ketidakpastian.”
Ketidakpastian itu terasa merata. Nancy Pérez (74), warga Valencia, mengatakan ia hanya ingin mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya. Di Caracas, Jenny Salazar menyatakan ketidaksetujuannya atas campur tangan asing. “Saya tidak setuju presiden dari luar Venezuela mengambil alih kendali atas kami,” katanya kepada CNN.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan pemerintahannya akan mengelola Venezuela “hingga terjadi transisi.” Pernyataan itu justru memicu pertanyaan baru di kalangan warga.
Teo Tilin, warga Miami yang tengah mengunjungi ibunya di Venezuela, mengaku bingung. “Kendali seperti apa yang akan dijalankan? Siapa yang akan mengatur semuanya? Saya tidak tahu,” katanya.
Baca Juga: ASN Wajib Aktifkan ASN Digital 2026, Telat Login Bisa Ganggu Gaji dan Pangkat
Seorang dokter di Caracas menilai peran militer akan sangat menentukan. “Sikap Angkatan Bersenjata Venezuela adalah kunci. Kita harus menunggu bagaimana mereka menentukan posisi,” ujarnya.
Sesuai Konstitusi Venezuela, presiden sementara Delcy Rodríguez seharusnya menggelar pemilu baru dalam 60 hari. Namun, kejelasan transisi masih dipertanyakan publik.
Media pemerintah Venezuela menampilkan pesan perlawanan dari pendukung rezim. Dalam siaran langsung Telesur, seorang pemuda menyatakan, “Kami adalah anak-anak Hugo Chávez. Kami tidak akan membiarkan siapa pun yang menganggap dirinya polisi dunia mengubah negara ini.”
Rodríguez, yang ditunjuk Mahkamah Agung sebagai presiden setelah Maduro dicopot, belum memberikan pernyataan resmi. Pemerintah menyatakan bandara internasional tetap beroperasi dan Majelis Nasional akan dilantik sesuai jadwal.
Pernyataan Trump bahwa Amerika Serikat dapat bekerja sama dengan Rodríguez sebagai kepala negara baru justru memperdalam ketidakpastian—dan membuat warga Venezuela kian waswas menatap masa depan negaranya.
Editor : Marthadi