LombokPost - Penembakan terhadap warga Amerika Serikat Renee Good oleh agen badan imigrasi dan bea cukai (ICE) menimbulkan gejolak.
Yang terbaru, ribuan demonstran turun ke jalan-jalan Minneapolis pada hari Sabtu (10/1) waktu setempat.
Mereka sambil meneriakkan nama wanita yang dibunuh oleh agen federal di kota itu.
Demontrasi terus meluas atas penggunaan kekerasan dalam penindakan imigrasi pemerintahan Donald Trump.
Para penyelenggara mengatakan bahwa lebih dari 1.000 kegiatan demontsrasi direncanakan di seluruh Amerika Serikat dengan slogan "ICE, Out for Good".
Slogan tersebut merujuk pada badan Imigrasi dan Penegakan Bea Cukai yang ditentang atas pelaksanaan upaya Trump untuk melakukan deportasi massal.
Slogan tersebut juga merujuk pada Good, perempuan 37 tahun yang ditembak mati di dalam mobilnya oleh seorang agen ICE pada Rabu (7/1) lalu.
Kemarahan publik terjadi karena menilai agen ICE memberikan tembakan tanpa adanya ancaman berarti.
Ribuan orang menantang cuaca dingin dan berbondong-bondong menuju taman yang tertutup salju untuk melakukan mobilisasi di dekat lokasi penembakan.
Mereka membawa spanduk yang menuntut "ICE keluar" dari Minnesota.Di awal protes, sebuah suara berteriak, "Sebutkan namanya!" Kerumunan itu balas berteriak: "Renee Good!"
Kematian Renee telah memicu emosi yang kuat di benteng Partai Demokrat ini, dan di seluruh negeri.
"Ada petugas ICE yang menembak perempuan di wajah karena membela diri. Ini tidak masuk akal. Biarkan mereka datang ke sini dengan itu, dan mari kita lihat apa yang sebenarnya akan terjadi pada ICE," kata Alex Vega, seorang demonstran di Boston.
Di Philadelphia, para pengunjuk rasa berpawai di tengah hujan dari Balai Kota menuju kantor lapangan ICE.
Aksi serupa juga terjadi di New York dan Washington dengan jumlah demonstran mencapai puluhan hingga ratusan orang.
Aksi protes lainnya direncanakan untuk hari Minggu (11/1) waktu setempat.
Diketahui, setelah penembakan yang menewaskan Good, telah terjadi penembakan terhadap dua orang yang diduga imigran di Portland, Oregon.
Kepolisian Portland menyebut bahwa seorang pria dan wanita ditemukan mengalami luka tembak dan tengah menjalani perawatan di rumah sakit.
Petugas kepolisian memastikan anggotanya tidak terlibat dalam penembakan tersebut.
Melainkan, agen patroli perbatasan Amerika Serikat. Disebutkan bahwa penumpang kendaraan menjadi target karena disebut sebagai imigran ilegal asal Venezuela.
Keduanya disebut terlibat jaringan prostitusi transnasional dan terlibat sebuah aksi tembak-menembak di Portland.
Departemen Keamanan Dalam Negeri menyebut bahwa petugas melepaskan tembakan karena merasa nyawanya terancam.
Petugas meyakini pengemudi mencoba menabraknya.
"Seorang agen melepas tembakan untuk membela diri. Pengemudi melarikan diri bersama penumpangnya," ujar keterangan tersebut. (idr/len/JPG/r3)
Editor : Kimda Farida