Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Ketegangan Iran–AS Memanas, Relawan Kemanusiaan Tewas dan Pangkalan AS Kembali Disorot

Lalu Mohammad Zaenudin • Jumat, 16 Januari 2026 | 05:52 WIB
Pamgkalan Al Udeid Qatar
Pamgkalan Al Udeid Qatar


LombokPost
- Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat di tengah situasi keamanan yang rapuh, ditandai dengan jatuhnya korban dari kalangan pekerja kemanusiaan serta sorotan baru terhadap keberadaan militer AS di kawasan Teluk.

Seorang pekerja Iranian Red Crescent Society (IRCS) dilaporkan tewas saat menjalankan tugas kemanusiaan di Provinsi Gilan pada 10 Januari lalu. Selain korban meninggal, lima staf IRCS lainnya juga dilaporkan mengalami luka-luka.

Informasi tersebut disampaikan oleh International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies (IFRC). Dalam pernyataannya, IFRC menyebut pihaknya “sangat berduka” atas tewasnya Amir Ali Latifi dan menyampaikan belasungkawa kepada keluarga, kerabat, serta rekan-rekan korban.

“Kami berdiri dalam solidaritas bersama Iranian Red Crescent Society dan seluruh tenaga medis serta pekerja kemanusiaan yang terus memberikan bantuan penyelamatan jiwa di tengah situasi sulit ini,” tulis IFRC.

IFRC menegaskan bahwa para pekerja kemanusiaan harus dilindungi dalam kondisi apa pun. Organisasi tersebut juga menekankan pentingnya penghormatan terhadap lambang Palang Merah dan Bulan Sabit Merah guna memastikan penyaluran bantuan kemanusiaan yang netral dan tidak berpihak tetap dapat berlangsung. IFRC menyatakan terus memantau dampak kerusuhan terhadap masyarakat Iran melalui koordinasi dengan IRCS.

Di sisi lain, dinamika militer antara Washington dan Teheran kembali menjadi perhatian setelah muncul laporan bahwa penarikan sebagian personel militer AS dari Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar mulai dilonggarkan. Langkah kehati-hatian ini dilakukan di tengah hubungan AS–Iran yang masih tegang.

Pangkalan Al Udeid sebelumnya menjadi sasaran serangan rudal Iran pada Juni tahun lalu. Serangan tersebut diluncurkan sebagai aksi balasan atas serangan AS terhadap fasilitas nuklir Iran, di tengah dukungan Washington terhadap kampanye militer Israel selama 12 hari melawan Teheran. Iran saat itu menembakkan rudal balistik jarak pendek dan menengah ke arah pangkalan, meski tidak menimbulkan korban jiwa maupun luka-luka.

Pangkalan Udara Al Udeid, yang terletak di kawasan gurun barat daya Doha dan berdiri sejak 1996, merupakan markas depan US Central Command (CENTCOM). Pangkalan ini mengoordinasikan operasi militer AS di wilayah luas, mulai dari Mesir di barat hingga Kazakhstan di timur.

Menjelang serangan Iran tahun lalu, pemerintah Qatar sempat menutup wilayah udaranya untuk sementara sebagai bagian dari langkah pengamanan. Al Udeid selama ini dikenal sebagai salah satu aset strategis utama militer AS di Timur Tengah, sehingga setiap eskalasi yang melibatkan pangkalan tersebut kerap dipandang sebagai sinyal meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan.

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
#Pangkalan Al Udeid #Amerika Serikat #iran #Ketegangan geopolitik #Red Crescent