Aksi massa ini menjadi momentum krusial bagi stabilitas politik Iran pasca-transisi kepemimpinan tertinggi di negara tersebut.
Mulai dari Lapangan Enqelab di Teheran hingga berbagai wilayah di pelosok negeri, warga dari berbagai latar belakang berkumpul sejak pukul 15.00 waktu setempat.
Pertemuan nasional ini diagendakan sebagai bentuk pernyataan sumpah setia kepada pemimpin baru yang baru saja ditunjuk oleh otoritas terkait.
Acara nasional ini dihadiri oleh beragam segmen penduduk, mulai dari mahasiswa, kalangan ulama, anggota Basij, pelaku usaha, hingga pejabat pemerintah dan elit cendekiawan. Kehadiran para pemimpin salat Jumat di barisan massa turut mempertegas dukungan religius terhadap suksesi ini.
Dalam aksi tersebut, para peserta mengibarkan bendera nasional Iran serta membawa potret almarhum Ayatollah Seyed Ali Khamenei bersandingan dengan gambar pemimpin baru.
"Tangan Tuhan melindungi kita; Khamenei adalah Pemimpin kita" bergema di seluruh acara, merefleksikan sentimen spiritual dan politik para demonstran di tengah situasi regional yang dinamis.
Selain menyatakan kesetiaan, massa juga menyuarakan kecaman keras terhadap aksi militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel. Slogan-slogan yang diteriakkan merujuk pada rangkaian peristiwa konflik, termasuk perang 12 hari pada Juni 2025, kerusuhan Desember 2025, hingga agresi militer skala besar yang dimulai pada 28 Februari lalu.
Kerumunan massa menegaskan bahwa rakyat Iran tidak akan tunduk pada tekanan luar. Mereka menilai pihak lawan telah melakukan kesalahan perhitungan strategis dan akan segera menghadapi konsekuensi dari kebijakan konfrontatif tersebut.
Majelis Pakar Iran secara resmi menetapkan Ayatollah Seyed Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Revolusi Islam yang baru pada dini hari tanggal 9 Maret 2026. Keputusan ini diambil menyusul kemartiran Ayatollah Seyed Ali Khamenei yang telah memimpin Iran selama 37 tahun sejak 1989.
Dengan penetapan ini, Ayatollah Seyed Mojtaba Khamenei resmi menjadi pemimpin ketiga dalam sejarah Revolusi Islam Iran sejak era Imam Khomeini. Proses suksesi yang cepat ini diharapkan dapat memperkuat posisi tawar Iran di kancah internasional sekaligus menjaga soliditas internal di tengah ancaman agresi militer yang masih berlangsung.
Editor : Redaksi Lombok Post