Langkah militer ini diambil sebagai respons atas eskalasi agresi militer yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap kedaulatan Iran.
Berdasarkan laporan resmi dari kantor berita IRGC pada Kamis (12/3/2026), fase terbaru operasi ini diluncurkan sesaat setelah publikasi pesan perdana dari Pemimpin Revolusi Islam yang baru, Ayatollah Seyyed Mojtaba Khamenei.
Pihak IRGC menyatakan bahwa gelombang serangan ini didedikasikan sebagai penghormatan kepada para korban selama bulan suci Ramadhan. Secara khusus, fase ini ditujukan bagi "pemimpin para syuhada, pemimpin revolusi yang gugur, dan keluarganya yang terhormat."
Operasi militer kali ini melibatkan penggunaan alutsista berat dengan teknologi mutakhir. Pernyataan resmi tersebut merinci peluncuran berbagai jenis rudal berat, termasuk tipe Emad, Qadr, Khaibar Shekan, dan rudal hipersonik Fattah, yang dikombinasikan dengan penggunaan pesawat tanpa awak (drone) peledak.
Sasaran utama dari gelombang serangan ini mencakup titik-titik vital di jantung kota Tel Aviv serta sejumlah pangkalan yang dikelola oleh militer Amerika Serikat di kawasan tersebut.
Konfrontasi bersenjata ini berakar dari agresi militer yang dimulai pada 28 Februari lalu, yang berujung pada gugurnya Pemimpin Revolusi Islam sebelumnya, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei. Sejak peristiwa tersebut, Iran secara intensif melancarkan serangan balasan yang menargetkan wilayah pendudukan Israel serta pangkalan-pangkalan AS di negara regional.
Posisi Iran Terhadap Negara Kawasan
Meski terus meningkatkan intensitas serangan udara, pemerintah Iran berulang kali menegaskan bahwa target operasi militer mereka terbatas pada posisi militer Amerika Serikat dan Israel. Teheran menyatakan bahwa mereka tidak memiliki keinginan untuk memperluas konflik dengan negara-negara Arab di sekitarnya.
Hingga saat ini, ketegangan di kawasan Asia Barat masih berada pada level tertinggi seiring dengan belum adanya tanda-tanda deeskalasi dari pihak-pihak yang terlibat dalam konflik tersebut.
Editor : Redaksi Lombok Post