LombokPost - Ketegangan di Timur Tengah memasuki fase paling berbahaya.
Menanggapi ultimatum keras Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Pemerintah Iran melalui petinggi militernya mengeluarkan ancaman balasan yang tak kalah mengerikan: penutupan total Selat Hormuz dan serangan terhadap seluruh infrastruktur militer AS di kawasan Teluk.
Langkah ini merupakan respon langsung atas ancaman Trump yang berencana meratakan sektor energi Iran jika jalur pelayaran internasional tersebut tidak segera dibuka dalam waktu 36 jam.
Targetkan Infrastruktur Militer Amerika
Mengutip Arab News, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Qalibaf, menegaskan bahwa jika pembangkit listrik dan infrastruktur Iran diserang, maka seluruh infrastruktur vital di kawasan akan menjadi target sah dan 'akan dihancurkan secara permanen'.
Teheran menegaskan bahwa setiap serangan yang menargetkan kedaulatan ekonomi mereka, terutama fasilitas minyak dan energi, akan dibalas dengan kekuatan penuh.
Baca Juga: Trump Mulai Mundur? Operasi Rebut Hormuz Tak Sesuai Rencana
Iran mengeklaim telah menyiagakan ribuan rudal balistik yang diarahkan langsung ke pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat di negara-negara tetangga.
“Jika Amerika melakukan kesalahan sedikit saja dengan menyerang infrastruktur energi kami, maka tidak ada satu pun pangkalan AS di kawasan ini yang akan merasa aman,” tegasnya, Senin (23/3).
Penutupan Selat Hormuz dinilai sebagai "tombol nuklir" ekonomi yang dimiliki Iran.
Selat Hormuz Sebagai Senjata Pamungkas
Sebagai jalur yang dilewati seperlima pasokan minyak dunia, penutupan total jalur ini diprediksi akan menghentikan aliran energi ke pasar global secara instan, memicu depresi ekonomi yang jauh lebih parah dari krisis energi tahun 1970-an.
Iran menyatakan bahwa mereka tidak akan ragu untuk memasang ranjau laut dan mengerahkan armada drone kamikaze guna memastikan tidak ada satu pun kapal tanker yang bisa melintasi selat tersebut jika konfrontasi fisik dimulai.
Respons Dunia: Seruan Menahan Diri
Sikap saling kunci antara Trump dan Teheran ini memicu kepanikan luar biasa di pasar komoditas dunia. Harga minyak mentah dunia dilaporkan terus merangkak naik mendekati rekor tertinggi sepanjang masa.
Sejumlah negara besar, termasuk Tiongkok dan Rusia, mendesak kedua belah pihak untuk segera kembali ke meja perundingan. Mereka memperingatkan bahwa perang terbuka di Selat Hormuz bukan hanya urusan dua negara, melainkan ancaman eksistensial bagi stabilitas ekonomi seluruh umat manusia.
Dampak Nyata
Gejolak di Teluk Persia ini bukan lagi isu yang jauh bagi dunia. Mengingat negara sangat bergantung pada pasokan BBM dan barang logistik yang dikirim melalui jalur laut, penutupan Selat Hormuz akan berdampak.
Kenaikan Biaya Transportasi: Lonjakan harga minyak dunia akan langsung mengerek tarif kargo dan tiket transportasi.
Inflasi Pangan: Kenaikan biaya logistik antar-pulau berpotensi memicu meroketnya harga kebutuhan pokok di pasar-pasar tradisional.
Ketidakpastian Pasokan: Gejolak global dapat mengganggu jadwal impor bahan baku industri yang masuk ke Indonesia.
Hingga berita ini diturunkan, dunia tengah menantikan berakhirnya tenggat waktu 36 jam yang diberikan Trump, sementara armada tempur kedua pihak dilaporkan sudah dalam posisi siap tempur (standby).
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin