Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Iran Sindir Keras AS: “Jangan Sebut Kekalahan sebagai Kesepakatan”, Negosiasi Damai Makin Buntu!

Kimda Farida • Rabu, 25 Maret 2026 | 13:25 WIB

Ketegangan Iran-AS meningkat setelah Teheran menolak negosiasi dan menyindir keras proposal damai Washington di tengah konflik berkepanjangan.
Ketegangan Iran-AS meningkat setelah Teheran menolak negosiasi dan menyindir keras proposal damai Washington di tengah konflik berkepanjangan.

LombokPost--Pernyataan keras datang dari Iran terkait kabar adanya upaya negosiasi dengan Amerika Serikat.

Dalam respons terbarunya, pihak Teheran menyebut Washington seolah “bernegosiasi dengan dirinya sendiri” dan memperingatkan agar tidak menyebut kekalahan sebagai sebuah kesepakatan.

Pernyataan ini mempertegas sikap Iran yang menolak berbagai spekulasi mengenai pembicaraan damai, terutama setelah laporan media Barat menyebut adanya proposal dari AS yang dikirim melalui jalur tidak langsung.

Sumber-sumber menyebut, Iran menolak bertemu dengan utusan Amerika seperti Steve Witkoff dan Jared Kushner.

Penolakan ini diduga berkaitan dengan insiden sebelumnya, di mana pertemuan diplomatik di Jenewa diikuti serangan ke Teheran hanya dua hari kemudian.

Situasi itu disebut sebagai bentuk “pengkhianatan” oleh sejumlah sumber di kawasan Teluk.

Baca Juga: Sekolah Daring Bukan Prioritas, Pendidikan Salah Satu Sektor Prioritas Pemerintah

Di sisi lain, muncul wacana baru dari lingkaran dalam Donald Trump untuk mengirim Wakil Presiden JD Vance sebagai perantara alternatif.

Vance disebut-sebut sebagai figur yang lebih skeptis terhadap konflik ini, dan berpotensi membuka jalur komunikasi baru melalui Pakistan.

Namun, di tengah manuver tersebut, bocoran rencana AS yang disebut sebagai “15 poin” justru memperkeruh keadaan.

Proposal itu mencakup tuntutan besar terhadap Iran, mulai dari penghentian total pengayaan uranium, pembongkaran fasilitas nuklir utama seperti Natanz, Fordow, dan Isfahan, hingga pembatasan program rudal serta penghentian dukungan terhadap kelompok sekutu di kawasan.

Bagi Iran, tuntutan tersebut dinilai tidak realistis dan mustahil diterima.

Bahkan, sumber-sumber menyebut Teheran lebih memilih merespons tekanan itu dengan kekuatan militer, termasuk melalui serangan rudal dan drone.

Baca Juga: KPK Kembali Tahan Eks Menag Yaqut dan Noel Ajukan Permohonan Pengalihan Penahanan, ICW Desak Pimpinan KPK Diperiksa

Sementara itu, kondisi di lapangan juga menunjukkan tekanan besar terhadap Amerika Serikat dan sekutunya.

Konflik yang diperkirakan hanya berlangsung beberapa hari kini telah memasuki pekan keempat.

Dampaknya terasa pada pasar global, dengan harga minyak sempat melonjak tajam dan memicu kekhawatiran krisis energi.

Di dalam negeri Israel, kekhawatiran juga mulai muncul.

Beberapa pihak disebut cemas bahwa Trump akan mengambil jalan pintas dengan menyepakati kesepakatan parsial dan mengklaim kemenangan politik, tanpa mencapai target strategis jangka panjang.

Hingga kini, belum ada tanda-tanda deeskalasi yang nyata.

Baca Juga: Klaim Trump untuk Manipulasi Pasar Keuangan dan Amunisi AS Diduga Sudah Lemah, Iran Bantah Ada Negosiasi dengan AS

Iran tetap pada posisinya, sementara Amerika Serikat menghadapi tekanan ekonomi dan geopolitik yang semakin kompleks.

Alih-alih menuju meja perundingan, situasi justru bergerak ke arah konfrontasi yang lebih terbuka—dengan diplomasi yang kian kehilangan pijakan.

Editor : Kimda Farida
#negosiasi Iran Amerika #konflik timur tengah #Iran vs AS #Krisis minyak global #Donald Trump Iran