Insiden ini terjadi hanya sehari setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memberikan pernyataan mengenai penangguhan serangan terhadap infrastruktur energi Iran selama lima hari. Namun, janji tersebut dinilai Moskow hanya menjadi kata-kata kosong setelah serangan kembali terjadi keesokan harinya.
Kementerian Luar Negeri Rusia mengungkapkan kemarahan besar atas aksi militer yang dianggap sembrono tersebut. Moskow menilai serangan ini berpotensi memicu bencana kemanusiaan dan lingkungan yang tak terbayangkan jika mengenai fasilitas inti PLTN.
"Di Washington dan Tel Aviv, mereka seharusnya memahami, sama seperti kita, bahwa serangan langsung ke pembangkit listrik tenaga nuklir Bushehr pasti akan menyebabkan konsekuensi kemanusiaan dan lingkungan yang tidak dapat dipulihkan," tulis pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Rusia.
Rusia juga menuding bahwa pihak agresor seolah sengaja memprovokasi terjadinya bencana nuklir skala besar di kawasan Timur Tengah untuk menjustifikasi tindakan militer mereka.
PLTN Bushehr merupakan satu-satunya pembangkit listrik tenaga nuklir yang beroperasi di Iran dan dibangun atas bantuan teknis dari Rusia. Keberadaan spesialis dan staf ahli Rusia di fasilitas tersebut membuat Moskow semakin waspada.
"Nyawa personel stasiun, termasuk spesialis Rusia, terus-menerus terancam," tegas kementerian tersebut dalam keterangannya.
Rusia menuntut agar pihak-pihak yang meluncurkan serangan tanpa provokasi tersebut segera menghentikan agresi, terutama terhadap infrastruktur nuklir yang berada di bawah pengawasan badan atom internasional (IAEA).
Pemerintah Rusia mendesak adanya reaksi cepat dari organisasi internasional terhadap insiden ini. Moskow juga meminta IAEA untuk memberikan penilaian objektif mengenai ancaman nyata terhadap fasilitas nuklir yang dilindungi oleh Perjanjian Pengamanan Komprehensif tersebut.
Hingga saat ini, belum ada tanggapan resmi dari pihak Amerika Serikat maupun Israel terkait kecaman yang dilayangkan oleh Rusia. Moskow secara konsisten telah memperingatkan bahwa setiap tindakan militer yang membahayakan fasilitas Bushehr berisiko menyebabkan bencana radiologis dan ekologis yang meluas di wilayah tersebut.
Pernyataan ini menambah panjang daftar ketegangan diplomatik antara kekuatan global di tengah konflik bersenjata yang masih terus bergejolak di Iran sejak akhir Februari lalu.
Editor : Redaksi Lombok Post