Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Retak di NATO, Macron Kritik Keras Kebijakan Trump

Lalu Mohammad Zaenudin • Kamis, 2 April 2026 | 21:28 WIB
Macron dan Trump (Al Jazeera)
Macron dan Trump (Al Jazeera)

 

LombokPost - Retakan di dalam aliansi Barat kembali mengemuka. Presiden Prancis Emmanuel Macron melontarkan kritik tajam kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump, menyebut gagasan membuka Selat Hormuz dengan kekuatan militer sebagai langkah yang “tidak realistis” dan berisiko tinggi.

Macron menilai pernyataan Trump justru melemahkan fondasi aliansi NATO.

“Setiap hari Anda menimbulkan keraguan atas komitmen Anda, maka Anda mengikis substansi aliansi itu sendiri,” kata Macron dalam kunjungan kenegaraan di Seoul, Korea Selatan, seperti dikutip dari The Guardian, Kamis (2/4).

Pernyataan ini muncul setelah Trump dalam sejumlah wawancara melontarkan kritik keras terhadap NATO. Ia bahkan menyebut aliansi tersebut sebagai “macan kertas” dan mengancam akan menarik Amerika Serikat keluar dari NATO—sebuah sinyal yang memicu kegelisahan di kalangan pemimpin Eropa.

Ketegangan meningkat ketika Trump mendorong agar Selat Hormuz diamankan dengan kekuatan militer. Jalur strategis ini selama ini menjadi titik vital distribusi energi global, sehingga setiap eskalasi berpotensi mengguncang stabilitas ekonomi dunia.

Macron menilai pendekatan tersebut berbahaya.

“Saya percaya organisasi seperti NATO ditentukan oleh apa yang tidak diucapkan—yakni kepercayaan yang menopangnya,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa inkonsistensi pernyataan publik justru merusak kredibilitas aliansi.

“Kita harus serius. Dan jika ingin serius, Anda tidak bisa mengatakan hal yang berlawanan dari hari sebelumnya,” tegas Macron.

Baca Juga: Trump Bantah Intelijennya Sendiri, Retakan Gedung Putih Kian Terbuka

Lebih jauh, Macron menyebut penggunaan kekuatan militer untuk membuka Selat Hormuz sebagai langkah yang tidak masuk akal. Ia memperingatkan bahwa operasi semacam itu hanya akan membuka peluang serangan dari Iran terhadap armada Barat.

Menurutnya, satu-satunya jalan realistis adalah melalui koordinasi dengan Iran pasca gencatan senjata.

“Mengamankan Selat Hormuz hanya bisa dilakukan melalui koordinasi dengan Iran,” kata Macron.

Pernyataan ini menegaskan perbedaan pendekatan mendasar antara Washington dan Paris. Jika Trump menekankan tekanan dan kekuatan militer, Macron justru mendorong stabilitas melalui diplomasi dan kepercayaan.

Di tengah meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah, perbedaan sikap ini bukan sekadar perdebatan retoris. Ia mencerminkan potensi pergeseran arah aliansi Barat—antara pendekatan konfrontatif dan jalur koordinasi strategis.

“I think there is too much talk,” ujar Macron, yang jika diterjemahkan berarti, “Saya rasa terlalu banyak omong kosong yang beredar.”

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
#macron #nato #trump