LombokPost - Jumlah korban tewas akibat serangan terhadap jembatan B1 di Karaj, Iran, terus bertambah. Media pemerintah Iran melaporkan, korban meninggal kini mencapai delapan orang, sementara hampir 100 lainnya mengalami luka-luka.
Serangan yang terjadi pada Kamis itu menjadi salah satu eskalasi terbaru dalam konflik yang kian memanas di kawasan. Infrastruktur sipil kembali menjadi sasaran, memperbesar dampak kemanusiaan di tengah ketegangan yang belum mereda.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya secara terbuka menyinggung serangan tersebut. Ia bahkan memperingatkan bahwa aksi militer lanjutan masih mungkin terjadi.
“Akan ada lebih banyak lagi,” ujarnya, sembari mendesak Teheran untuk segera mencapai kesepakatan.
Pernyataan itu langsung mendapat respons keras dari Iran. Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menegaskan bahwa serangan tersebut tidak akan melemahkan posisi negaranya.
“Ini justru menunjukkan kekalahan dan keruntuhan moral musuh yang sedang kacau,” katanya.
Baca Juga: Jembatan Raksasa Iran Runtuh, Trump: Ini Baru Awal
Araghchi juga menekankan bahwa kerusakan fisik akibat serangan bukanlah persoalan utama bagi Iran.
“Setiap jembatan dan bangunan akan dibangun kembali dengan lebih kuat,” ujarnya.
Namun ia memperingatkan bahwa dampak jangka panjang akan dirasakan oleh Amerika Serikat sendiri.
“Yang tidak akan pulih adalah kerusakan terhadap reputasi Amerika di mata dunia,” tegasnya.
Serangan terhadap jembatan di Karaj ini menambah daftar panjang target infrastruktur dalam konflik terbaru, sekaligus memperkuat kekhawatiran bahwa eskalasi tidak lagi terbatas pada fasilitas militer.
Dengan korban sipil yang terus bertambah, tekanan internasional terhadap kedua pihak diperkirakan akan meningkat, meski hingga kini belum terlihat tanda-tanda deeskalasi di lapangan.
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin