LombokPost - Lebih dari 40 negara menggelar pertemuan darurat untuk membahas langkah bersama menekan Iran agar membuka kembali Selat Hormuz—jalur vital energi dunia yang kini lumpuh akibat eskalasi konflik.
Menteri Luar Negeri Inggris Yvette Cooper, yang memimpin pertemuan virtual tersebut, menegaskan bahwa semua opsi sedang dipertimbangkan.
“Kami membahas setiap kemungkinan langkah diplomatik, ekonomi, dan koordinasi untuk membuka kembali selat ini,” ujarnya, seperti dikutip Jumat (3/4).
Ia menyebut tindakan Iran telah berdampak global.
“Ini memengaruhi harga bahan bakar, suku bunga, pupuk di Afrika, hingga gas di Asia,” kata Cooper.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur strategis yang mengalirkan sekitar 10–25 persen pasokan minyak dan gas dunia. Penutupannya langsung memicu lonjakan harga energi dan gangguan rantai pasok global.
Baca Juga: Presiden Masjid Ditangkap di AS, Padahal Tak Ada Catatan Kriminal
Sumber di Whitehall menyebut, dalam pertemuan tersebut juga dibahas upaya melibatkan negara-negara Global South untuk memberikan tekanan ekonomi kepada Iran. Bahkan, sejumlah negara yang sebelumnya enggan menjatuhkan sanksi kini mulai menunjukkan sikap lebih keras.
Salah satu opsi yang sedang dikaji oleh United Nations adalah pembukaan koridor kemanusiaan agar distribusi pupuk tetap berjalan, guna mencegah krisis pangan di negara-negara berkembang.
Selain langkah diplomatik, opsi militer juga mulai dipertimbangkan. Pekan depan, akan digelar pembahasan lanjutan terkait kemungkinan pembersihan ranjau laut dan penyelamatan kapal yang terjebak di kawasan tersebut.
Menariknya, pertemuan ini berlangsung tanpa kehadiran Amerika Serikat—negara yang memicu konflik dengan Iran. Negara-negara seperti Inggris, Prancis, Jerman, Australia, serta sejumlah negara Teluk menjadi motor utama diskusi.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya justru mendorong pendekatan keras.
“Negara-negara yang bergantung pada selat itu harus berani dan mengambilnya kembali,” ujarnya.
Baca Juga: Korban Serangan Jembatan Iran Bertambah, Delapan Tewas, Hampir 100 Luka
Namun Perdana Menteri Inggris Keir Starmer memperingatkan bahwa upaya tersebut tidak mudah dilakukan.
Dampak krisis ini semakin nyata. Bank Dunia memperkirakan penutupan berkepanjangan dapat mendorong sekitar 9 juta orang ke dalam kondisi rawan pangan, seiring melonjaknya harga energi dan bahan makanan.
Australia juga merasakan tekanan serupa. Menteri Luar Negeri Penny Wong menegaskan pentingnya koordinasi global.
“Penutupan de facto Selat Hormuz telah menciptakan guncangan pasokan energi yang belum pernah terjadi sebelumnya,” ujarnya.
Di Inggris, tekanan politik terhadap Trump juga meningkat. Pemimpin Partai Konservatif Kemi Badenoch mengingatkan agar Amerika tidak lepas tangan.
“Jika Anda merusaknya, Anda harus bertanggung jawab,” katanya, mengutip prinsip lama diplomasi AS.
Baca Juga: Jembatan Raksasa Iran Runtuh, Trump: Ini Baru Awal
Sementara itu, pemimpin Reform UK Nigel Farage mengakui kebingungan atas arah kebijakan Trump, sedangkan pemimpin Liberal Demokrat Ed Davey mendesak pemerintah Inggris mengambil peran lebih besar.