Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

TikTok Hapus Influencer Israel, Konten Kekerasan Jadi Pemicu

Lalu Mohammad Zaenudin • Jumat, 3 April 2026 | 08:23 WIB
Akun TikTok Roy Star yang diblokir.
Akun TikTok Roy Star yang diblokir (The Guardian).

 

LombokPost - Platform media sosial TikTok menghapus akun seorang influencer ultranasionalis Israel setelah dinilai melanggar aturan terkait ujaran kebencian dan perundungan.

 

Keputusan ini diambil setelah sejumlah video yang menunjukkan aksi pelecehan terhadap warga Palestina dan aktivis di Tepi Barat menjadi viral di media sosial.

 

Tokoh yang akunnya dihapus adalah Roi Star, seorang figur media sosial pro-permukiman yang kerap mengunggah konten provokatif. Dalam salah satu video, ia terlihat memasuki rumah yang digunakan aktivis dan menyemprotkan gas merica kepada seseorang yang mencoba menghalanginya.

 

Video tersebut memperlihatkan situasi yang memanas.

“Ini Judea, bukan Palestina,” teriaknya dalam rekaman yang juga beredar luas.

 

Baca Juga: Dari Nuklir ke Kehancuran, Strategi Trump Dinilai Ngawur!


Pihak TikTok menyatakan akun tersebut melanggar kebijakan komunitas.

“Kami tidak mengizinkan individu atau konten yang mempromosikan kekerasan dan kebencian,” kata perwakilan platform.

 

Selain itu, TikTok juga menghapus sejumlah konten lain yang terkait dengan kelompok kanan ekstrem, meski tidak merinci akun-akun yang terlibat.

 

Fenomena ini terjadi di tengah meningkatnya kekerasan di Tepi Barat sejak perang Gaza 2023. Lebih dari 1.000 warga Palestina dilaporkan tewas, sementara serangan terhadap rumah dan komunitas terus meningkat dalam beberapa pekan terakhir.

 

Direktur eksekutif B’Tselem, Yuli Novak, menilai tren ini sebagai bagian dari normalisasi yang lebih luas.

“Dehumanisasi terhadap warga Palestina kini menjadi arus utama di Israel,” ujarnya.

 

Baca Juga: Krisis Energi Global, 40 Negara Tanpa AS Tekan Iran Buka Hormuz!

Peneliti media digital dari Open University of Israel, Anat Ben-David, melihat adanya hubungan erat antara dunia digital dan kekerasan di lapangan.

“Sirkulasi video ini menunjukkan konvergensi antara dinamika platform dan kekerasan nyata,” katanya.

 

Sementara itu, aktivis yang menjadi korban dalam salah satu insiden, Andrey Khrzhanovskiy, menggambarkan fenomena ini sebagai konflik dua lapis—fisik dan digital.

“Ini mungkin pertama kalinya pembersihan etnis bisa disaksikan langsung di TikTok,” ujarnya.

 

Ia menambahkan bahwa para pemukim dan aktivis kini saling merekam, menciptakan “pertempuran paralel” antara realitas di lapangan dan narasi di media sosial.

 

Aktivis Israel lainnya, Barak Cohen, memperingatkan bahwa konten semacam ini mendorong eskalasi.

“Kekerasan terhadap warga Palestina memicu dinamika massa. Tuntutannya adalah kekerasan,” katanya.

 

Baca Juga: Jembatan Raksasa Iran Runtuh, Trump: Ini Baru Awal

Fenomena ini juga dikaitkan dengan meningkatnya pengaruh politik sayap kanan di Israel. Sejumlah politisi bahkan ikut memanfaatkan media sosial untuk menyuarakan narasi serupa.

 

Meski TikTok telah mengambil langkah tegas, platform lain seperti Meta—pemilik Instagram—masih menjadi sorotan karena dinilai lambat menindak konten serupa.

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
#tiktok #Israel #Palestina