LombokPost – Dunia terperanjat! Hanya beberapa jam setelah gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran resmi dimulai, Israel justru mengamuk dan menghujani Lebanon dengan lebih dari 100 serangan udara hanya dalam waktu 10 menit.
Aksi brutal ini menyebabkan sedikitnya 254 orang tewas dan lebih dari 1.160 orang luka-luka dalam semalam, menghancurkan harapan perdamaian di kawasan tersebut.
Dikutip dari laporan Al Jazeera, serangan udara paling mematikan dalam beberapa tahun terakhir ini menyasar pusat kota Beirut, pinggiran kota, wilayah selatan, hingga Lembah Bekaa yang padat penduduk.
Warga menggambarkan situasi tersebut sebagai neraka di bumi, di mana bangunan tempat tinggal runtuh menjadi puing-puing tanpa ada peringatan sama sekali.
Baca Juga: PBB Hanya Investigasi Dua Insiden, Serangan Israel Dinilai Lemahkan Mandat UNIFIL
"Kucing-kucing di jalanan saja lari ketakutan," ungkap Em Walid, seorang pemilik toko pakaian di pusat Beirut yang menyaksikan langsung kengerian tersebut.
Kontroversi Gencatan Senjata: Trump dan Netanyahu Membantah
Kekacauan semakin menjadi karena adanya perbedaan klaim mengenai cakupan gencatan senjata yang dimediasi oleh Pakistan tersebut. Meski Iran dan Pakistan menegaskan bahwa Lebanon termasuk dalam kesepakatan gencatan senjata dua minggu itu, pihak Israel dan Amerika Serikat justru menyatakan sebaliknya.
Presiden AS Donald Trump secara terang-terangan menyebut konflik di Lebanon sebagai "bentrokan terpisah", sementara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa gencatan senjata tersebut "tidak termasuk Lebanon".
Netanyahu bahkan bersumpah akan terus melanjutkan operasi militer terhadap target-target yang diklaim sebagai markas Hizbullah.
Baca Juga: Momen Langka! Jannik Sinner Latihan Bareng Bintang 17 Tahun Moise Kouame di Monte-Carlo
Krisis Kemanusiaan: Rumah Sakit Kewalahan
Intensitas serangan yang luar biasa membuat fasilitas medis di Lebanon nyaris lumpuh. Di Rumah Sakit American University of Beirut, ratusan warga mengantre untuk mendonorkan darah demi membantu ribuan korban yang terus berdatangan.
Sejak Israel meningkatkan serangannya pada awal Maret lalu, tercatat sekitar 1.700 orang telah tewas dan lebih dari 1,2 juta warga Lebanon terpaksa mengungsi dari rumah mereka.
"Orang-orang sangat ketakutan. Situasi seperti ini tidak akan sanggup ditanggung oleh siapa pun," ujar Najib Merhe, seorang warga yang restorannya hancur akibat ledakan.
Hingga saat ini, upaya evakuasi korban dari balik reruntuhan masih terus dilakukan, dan jumlah korban tewas dikhawatirkan akan terus bertambah seiring makin banyaknya jenazah yang ditemukan.
Editor : Marthadi