Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Bawa Pesan Trump, Delegasi Pakistan Temui Menlu Iran

Redaksi • Jumat, 17 April 2026 | 11:24 WIB
BAWA PESAN: Menlu Iran Abbas Araghchi (kanan) menyambut kedatangan Panglima Angkatan Darat Pakistan Marsekal Lapangan Asim Munir di bandara Teheran, Rabu (15/4). (KEMENTERIAN LUAR NEGERI IRAN / AFP)
BAWA PESAN: Menlu Iran Abbas Araghchi (kanan) menyambut kedatangan Panglima Angkatan Darat Pakistan Marsekal Lapangan Asim Munir di bandara Teheran, Rabu (15/4). (KEMENTERIAN LUAR NEGERI IRAN / AFP)

LombokPost - Kendati perundingan pertama antara Iran dan Amerika Serikat (AS) gagal, Pakistan tidak menyerah. Negara dengan penduduk terbanyak kelima di dunia itu tetap berupaya menjembatani perundingan kedua.

Pada Rabu (15/4), delegasi Pakistan yang dipimpin Panglima Angkatan Darat Marsekal Lapangan Asim Munir tiba di Teheran. Asim akan menyampaikan pesan dari Presiden AS Donald Trump sekaligus membuka jalan bagi putaran lanjutan perundingan.

Delegasi yang terdiri atas unsur Kementerian Luar Negeri, lembaga keamanan, dan pakar teknis itu dijadwalkan bertemu Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi. Dilansir Tasnim News Agency, kunjungan ini menegaskan peran Pakistan sebagai mediator utama dalam komunikasi tidak langsung antara Teheran dan Washington.

Baca Juga: Iran: Panggung Perang Dingin Jilid Kedua

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baqaei mengonfirmasi kedatangan delegasi tersebut. ''Pertukaran pesan antara Iran dan Amerika Serikat masih berlangsung di tengah upaya diplomasi,” ujarnya.

Sumber yang mengetahui proses itu menyebutkan, keputusan mengenai putaran negosiasi berikutnya akan ditentukan setelah pertemuan dengan delegasi Pakistan. “Tim Iran akan melakukan peninjauan yang diperlukan, kemudian memutuskan langkah selanjutnya,” katanya.       

Dia menegaskan, keberlanjutan perundingan sangat bergantung pada sikap Washington. ''AS harus berpegang pada kerangka negosiasi yang logis dan menghindari tuntutan berlebihan atau pelanggaran komitmen sebelum gencatan senjata,” imbuhnya.

Baca Juga: Perundingan Damai Amerika Serikat-Iran Buntu, Wapres JD Vance Angkat Kaki dari Pakistan tanpa Hasil

Sumber tersebut juga menilai perkembangan di kawasan, termasuk gencatan senjata di Lebanon, dapat menjadi sinyal positif bagi keputusan Iran.

Peneliti senior di Teheran Abbas Aslani menyebut isu nuklir tetap menjadi salah satu titik krusial. “Jika ada kemauan, solusi bisa ditemukan,” ujarnya seperti dilansir Al Jazeera.

Menurut dia, Teheran terbuka sepanjang AS menunjukkan keseriusan untuk mencapai kesepakatan. Namun, Aslani menyoroti sanksi baru AS dan blokade terhadap pelabuhan Iran sebagai faktor yang menggerus kepercayaan. “Ada ketidakpercayaan. Iran saat ini juga bersiap menghadapi berbagai kemungkinan,” katanya.

Baca Juga: Syarat Damai Iran ke Amerika Serikat: Setop Serangan Israel hingga Pencairan Aset Beku USD 6 Miliar

Di tengah proses diplomatik, ketegangan di Selat Hormuz masih tinggi. AS memblokade pelabuhan Iran sebagai bagian dari tekanan ekonomi.

Penasihat militer Iran Mohsen Rezaei memperingatkan keberadaan militer AS di jalur tersebut. “Kapal-kapal Anda akan ditenggelamkan oleh rudal pertama kami,” ujarnya.

Sebaliknya, penasihat Gedung Putih Stephen Miller menegaskan blokade dapat berlangsung lama. ''Embargo ini mencekik perekonomian Iran dan AS mampu mempertahankannya tanpa batas waktu,” katanya.

Pemulangan WNI dari Iran dan Lebanon

Upaya evakuasi warga negara Indonesia (WNI) dari Iran terus dilakukan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu). Direktur Perlindungan WNI Kemenlu Heni Hamidah menyatakan, pihaknya bersama KBRI Teheran dan KBRI Baku telah memfasilitasi evakuasi tahap ketiga.

 “WNI diberangkatkan dari Teheran pada 12 April menuju Baku, Azerbaijan, melalui jalur darat, lalu melanjutkan penerbangan komersial ke Jakarta,” ujarnya dalam press briefing di Jakarta, Kamis (16/4).

Kepulangan dibagi dalam tiga kloter. Kloter pertama tiba Selasa (14/4) sebanyak 14 orang, kloter kedua Rabu (15/4) sembilan orang, dan kloter terakhir Kamis (16/4) sembilan orang.

''Masih ada 13 ABK yang ditampung sementara di Baku untuk menunggu penerbangan berikutnya,” katanya. Setibanya di Tanah Air, para WNI diserahkan ke Dinas Sosial dan Badan Penghubung Provinsi untuk dipulangkan ke daerah asal.

Berdasarkan data KBRI Teheran, setelah evakuasi tahap ketiga masih terdapat 236 WNI di Iran. Mayoritas berstatus pelajar atau mahasiswa, terutama di Kota Qom. Sisanya merupakan pekerja migran dan ekspatriat yang menikah dengan warga setempat.

Kemenlu juga memantau kondisi WNI di Lebanon yang terdampak konflik dengan Israel. Heni memastikan seluruh WNI dalam kondisi aman. Meski demikian, pemerintah telah menyiapkan rencana kontinjensi jika situasi memburuk.

Saat ini tercatat 934 WNI di Lebanon, terdiri atas 756 prajurit TNI yang tergabung dalam UNIFIL dan 178 warga sipil. (mia/lyn/oni/JPG/r3)

Editor : Redaksi
#pakistan #Amerika Serikat #Delegasi #iran #kementerian luar negeri