LombokPost--Pemerintah Iran menyatakan belum mengambil keputusan untuk mengirim delegasi negosiasi ke Islamabad, Pakistan. Teheran menegaskan bahwa pembicaraan diplomatik tidak akan dilakukan selama blokade angkatan laut yang diberlakukan Amerika Serikat terhadap wilayah perairan Iran masih terus berlangsung.
Informasi yang dihimpun dari media Tasnim menunjukkan bahwa pertukaran pesan antara Teheran dan Washington sejatinya masih berlanjut melalui perantara Pakistan setelah berakhirnya putaran pertama negosiasi. Namun, proses tersebut dilaporkan mengalami kebuntuan akibat tuntutan pihak AS yang dinilai berlebihan oleh otoritas Iran.
Diplomasi di Tengah Kesiapan Militer
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menyatakan bahwa posisi negaranya saat ini adalah menjalankan diplomasi sekaligus menjaga kesiapan penuh untuk konfrontasi militer. Dalam pidato yang disiarkan televisi nasional pada Sabtu (18/4/2026) malam, Qalibaf menekankan bahwa Iran tetap waspada terhadap segala bentuk strategi lawan.
Qalibaf menyebut situasi saat ini sebagai "perang ketiga yang dipaksakan" yang dimulai melalui taktik tekanan AS di tengah proses negosiasi. Ia mencatat bahwa pengalaman dari konflik 12 hari pada Juni 2025 menjadi landasan penting bagi militer Iran dalam menghadapi eskalasi yang dimulai sejak 28 Februari lalu.
“Iran telah menunjukkan keunggulan dalam hal perencanaan, kualitas, dan pelaksanaan,” ujar Qalibaf, merujuk pada keberhasilan pasukan Iran mencegat sekitar 170 hingga 180 drone serta menjatuhkan sejumlah jet tempur canggih selama periode konflik.
Baca Juga: Bawa Pesan Trump, Delegasi Pakistan Temui Menlu Iran
Kritik atas Kebijakan Blokade AS
Meski mengakui keunggulan sumber daya militer Washington secara umum, Qalibaf menegaskan bahwa hasil di lapangan menunjukkan efektivitas perencanaan Iran. Ia menggambarkan pendekatan Teheran saat ini sebagai "diplomasi kekuatan".
Terkait upaya gencatan senjata, Iran mengajukan syarat bahwa kesepakatan tersebut harus mencakup Hizbullah, mengingat peran kelompok tersebut dalam mendukung Teheran selama konflik berlangsung.
Qalibaf juga memberikan kritik tajam terhadap kebijakan blokade angkatan laut yang diperintahkan oleh Presiden AS Donald Trump. Ia menegaskan bahwa Iran memiliki kendali penuh atas Selat Hormuz sebagai jalur air strategis global. Teheran menyatakan tidak akan membiarkan pihak mana pun mengintervensi otoritas mereka di kawasan selat tersebut.
“Iran menginginkan perdamaian yang langgeng tetapi tetap sangat tidak mempercayai Amerika Serikat,” pungkas Qalibaf. Ia berharap adanya penyelesaian yang terjamin untuk mencegah siklus konflik yang berulang di masa depan.
Editor : Redaksi Lombok Post