Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Garda Revolusi Iran Sita Kapal Israel, Trump Perpanjang Gencatan Senjata

Redaksi • Kamis, 23 April 2026 | 12:59 WIB
MASIH PANAS: Seorang anak laki-laki berdiri di tengah reruntuhan bangunan yang hancur di samping potret almarhum pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei di daerah Haret Hreik di pinggiran selatan Beirut, Lebanon, Senin (20/4). (IBRAHIM AMRO / AFP)
MASIH PANAS: Seorang anak laki-laki berdiri di tengah reruntuhan bangunan yang hancur di samping potret almarhum pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei di daerah Haret Hreik di pinggiran selatan Beirut, Lebanon, Senin (20/4). (IBRAHIM AMRO / AFP)

LombokPost - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan perpanjangan gencatan senjata dengan Iran.

Namun, langkah tersebut tidak diikuti penghentian blokade yang justru memicu kecaman keras dari Teheran.

Gencatan dua pekan itu resminya berakhir Rabu (22/4). Trump sempat mengancam akan melakukan serangan besar-besaran kalau tak mau kembali ke meja perundingan.

Baca Juga: Gencatan Senjata Iran-AS Berakhir Hari Ini, Putaran Kedua Negosiasi Terancam Tertunda

Tapi, mengutip Al Jazeera, Trump menyatakan, serangan militer ditunda hingga para pemimpin Iran dapat mengajukan “proposal terpadu” untuk mengakhiri perang.

Dia juga mengaitkan keputusan itu dengan permintaan dari Panglima Militer Asim Munir dan Perdana Menteri Shehbaz Sharif.

Meski gencatan senjata diperpanjang, situasi di lapangan tetap tegang.

Baca Juga: AS Ancam Akan Bom Iran Lagi, Gencatan Senjata Berakhir Lusa

Blokade laut yang dilakukan AS terhadap pelabuhan Iran masih berlangsung. Ini menimbulkan pertanyaan apakah langkah tersebut cukup untuk mendorong Iran ke meja perundingan di Pakistan.

Apalagi, selain blokade, AS juga menyerang kapal kargo Iran. Iran menilai kebijakan tersebut sebagai pelanggaran serius. Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menegaskan bahwa blokade merupakan bentuk agresi.

“Memblokade pelabuhan Iran adalah tindakan perang dan pelanggaran gencatan senjata. Menyerang kapal dagang dan menahan awaknya adalah pelanggaran yang lebih besar lagi,” tuturnya seperti dikutip dari Tasnim News Agency.

Baca Juga: Manfaatkan Gencatan Senjata, Iran Percepat Rekonstruksi Persediaan Rudal dan Drone

Araghchi juga menekankan bahwa Iran mampu menghadapi tekanan tersebut. “Iran tahu bagaimana menetralisasi pembatasan, membela kepentingannya, dan melawan intimidasi,” katanya.

Langgar Aturan

Sementara itu, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan telah menyita dua kapal yang melanggar aturan di Selat Hormuz. Kedua kapal itu adalah MSC-Francesca yang disebut milik pemerintah Israel serta Epaminodes.

Kedua kapal yang telah dibawa ke dalam wilayah perairan Iran tersebut, kata IRGC, telah melintas tanpa izin. Juga, memba-hayakan keselamatan maritim saat diam-diam berupaya meninggalkan Selat Hormuz.

“Dengan kemampuan dominan intelijen Garda Revolusi, kedua kapal berhasil diidentifikasi dan dihentikan dalam rangka menjaga kehormatan dan kedaulatan Iran di Selat Hormuz,” kata IRGC dalam pernyataan resmi seperti dikutip dari Press TV.

Nasib Kapal Pertamina

Dari Indonesia, Menteri Luar Negeri Sugiono menyebut, dua kapal milik Pertamina masih belum bisa melewati Selat Hormuz. Pemerintah Indonesia terus bernegosiasi dengan Iran terkait izin pelayaran di tengah situasi yang semakin kompleks akibat blokade dan dinamika internal di lapangan.

“Kadang-kadang apa yang menjadi kebijakan (pemerintah Iran) dari atas itu tidak serta merta bisa diimplementasikan di lapangan,” katanya. (lyn/ttg/JPG/r3)

Editor : Redaksi
#gencatan senjata #blokade #Amerika Serikat #iran #pelanggaran