LombokPost - Pemerintah Argentina menduga wabah Hantavirus yang merebak di kapal pesiar MV Hondius berasal dari wilayah Argentina.
Dugaan itu muncul karena kapal tujuan Antartika tersebut berangkat dari Ushuaia, daerah yang dikenal sebagai salah satu kawasan dengan tingkat kasus hantavirus tertinggi di Amerika Latin.
Otoritas kesehatan Argentina kini menyelidiki kemungkinan para penumpang telah terpapar virus sebelum kapal berlayar pada 1 April lalu.
Penelusuran dilakukan terhadap riwayat perjalanan para penumpang, termasuk pasangan asal Belanda yang meninggal dunia setelah diketahui sempat bepergian ke Argentina, Uruguay, dan Chili sebelum naik kapal.
Dilansir dari The Guardian, Kementerian Kesehatan Argentina mencatat terdapat 101 kasus hantavirus sejak Juni 2025. Jumlah itu meningkat hampir dua kali lipat dibanding periode sebelumnya.
Pemerintah berupaya memastikan apakah penularan terjadi di daratan Argentina, saat kapal singgah di wilayah Atlantik Selatan, atau justru selama pelayaran berlangsung.
Baca Juga: Bayi di Israel Terinfeksi Herpes Usai Ritual Sunat Tradisional, Virus Capai Otak
Direktur Jenderal World Health Organization Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan WHO terus berkoordinasi dengan operator kapal dan otoritas kesehatan berbagai negara untuk memantau kondisi penumpang maupun awak kapal.
“WHO terus bekerja sama dengan operator kapal untuk memantau kesehatan penumpang dan awak kapal secara cermat, bekerja sama dengan negara-negara untuk mendukung tindak lanjut medis dan evakuasi yang tepat jika diperlukan,” tulis Tedros melalui akun X.
WHO meminta seluruh penumpang yang masih berada di kapal maupun yang telah turun agar segera melapor ke otoritas kesehatan setempat.
Baca Juga: Bangladesh Catat Kematian Pertama Akibat Virus Nipah di 2026
Meski demikian, WHO menilai risiko kesehatan masyarakat global masih tergolong rendah.
Pemerintah Argentina juga mengirimkan materi genetik virus Andes dan alat pengujian ke sejumlah negara, termasuk Spanyol, Afrika Selatan, Belanda, dan Inggris untuk mempercepat deteksi kasus.
Sementara itu, dilansir dari CNN, MV Hondius masih berada di lepas pantai Cape Verde setelah tidak diizinkan merapat ke pelabuhan. Hampir 150 orang, termasuk 17 warga Amerika Serikat, masih berada di atas kapal tersebut. (lyn/gas/JPG/r3)
Editor : Redaksi Lombok Post Online