LombokPost – Kelompok perlawanan Hizbullah di Lebanon melaporkan telah melancarkan 13 operasi militer terarah untuk membendung gerak maju pasukan Israel di wilayah Lebanon Selatan. Eskalasi ini menandai peningkatan signifikan dalam kampanye perlawanan guna melindungi kedaulatan Lebanon dari klaim pelanggaran gencatan senjata.
Dalam pernyataan resmi melalui saluran Telegram pada Kamis (7/5/2026) malam, Hizbullah merinci bahwa serangan tersebut menyasar kumpulan tentara dan kendaraan militer Israel di beberapa titik strategis sepanjang front selatan.
Operasi militer Hizbullah dilaporkan mencakup serangan presisi di sejumlah area kunci, antara lain Al-Taybe, Shama, Biyyada, segitiga Alman-Al-Qusayr, dan Khallet al-Raj yang terletak di dekat Deir Siryan.
Pihak Hizbullah menegaskan bahwa tindakan ini merupakan respons langsung dan proporsional terhadap aktivitas militer Israel yang dinilai melanggar kedaulatan Lebanon. Serangan tersebut terjadi di tengah laporan adanya penghancuran bangunan dan serangan udara yang merenggut puluhan nyawa warga sipil dalam beberapa hari terakhir.
Dinamika Gencatan Senjata yang Rapuh
Situasi di Lebanon Selatan saat ini berada dalam kondisi yang tidak menentu. Meskipun sebelumnya sempat tercapai kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi oleh Amerika Serikat, kenyataan di lapangan menunjukkan adanya gesekan bersenjata yang terus berlanjut.
Hizbullah sendiri mulai meningkatkan intensitas operasinya sejak awal Maret 2026. Momentum ini sempat mereda pasca-gencatan senjata antara Iran dan AS pada 8 April lalu, di mana Teheran menuntut penghentian agresi di Lebanon sebagai salah satu syarat utama negosiasi tidak langsung dengan Washington.
Baca Juga: Hizbullah Serang Permukiman Israel, Balas Pelanggaran Gencatan Senjata
Namun, militer Israel dilaporkan kembali melanjutkan operasi di Lebanon Selatan, bahkan mengeluarkan instruksi evakuasi bagi penduduk setempat.
Selain serangan fisik, otoritas Lebanon menyoroti langkah militer Israel yang tetap mempertahankan kendali di sebagian wilayah selatan. Israel dilaporkan mulai menerapkan zona penyangga militer yang dipaksakan, yang dikenal dengan istilah "Garis Kuning".
Langkah ini menyerupai tindakan pengendalian zona penyangga yang pernah diterapkan di Jalur Gaza. Bagi pihak Lebanon, keberadaan zona ini dianggap sebagai upaya pendudukan gaya baru yang secara terang-terangan melanggar kedaulatan wilayah mereka.
Konflik yang pecah sejak awal Maret 2026 ini telah membawa dampak kemanusiaan yang sangat berat bagi Lebanon. Berdasarkan data terbaru dari otoritas kesehatan setempat, jumlah korban jiwa terus meningkat secara drastis.
Setidaknya 2.704 orang dilaporkan tewas dan 8.311 lainnya mengalami luka-luka sejak militer Israel meluncurkan gelombang serangan baru pada Maret lalu. Komunitas internasional kini terus mendesak agar semua pihak kembali mematuhi kesepakatan gencatan senjata guna menghindari jatuhnya lebih banyak korban sipil.
Editor : Redaksi Lombok Post