lombokpost - Kisah memilukan sekaligus mengharukan datang dari seekor burung tukan bernama Grecia yang sempat menggemparkan dunia.
Burung tukan asal Kosta Rika itu menjadi korban kekejaman hewan paling sadis setelah paruhnya dihancurkan secara brutal oleh sekelompok remaja pada tahun 2015.
Kasus Grecia, burung tukan korban penyiksaan brutal ini kembali ramai diperbincangkan setelah berbagai media internasional menyoroti perkembangan teknologi penyelamatan satwa liar menggunakan cetak 3D.
Baca Juga: Mortal Kombat II Dihujani Kritik, Penonton Justru Kasih Nilai Tinggi
Nama Grecia kini tetap dikenang sebagai simbol perlindungan hewan dan perjuangan melawan kekejaman hewan di dunia.
Saat ditemukan warga di kawasan Alajuela, Kosta Rika, kondisi Grecia sangat mengenaskan. Separuh bagian atas paruhnya patah dan nyaris hancur total.
Cedera itu membuat Grecia tidak mampu makan secara normal, membersihkan bulu, hingga bertahan hidup di alam liar.
Baca Juga: Ben Affleck-Matt Damon Digugat Polisi Miami, Film The Rip Dituding Cemarkan Nama Baik
Bagi seekor burung tukan, paruh bukan hanya alat makan. Organ tersebut berfungsi penting untuk menjaga suhu tubuh, mengambil buah, bertahan dari predator, hingga merawat diri. Tanpa paruh utuh, Grecia divonis tidak akan bertahan lama.
Tim penyelamat satwa dari ZooAve Rescue Center kemudian bergerak cepat menyelamatkan Grecia.
Foto kondisi burung tukan itu langsung viral dan memicu kemarahan publik Kosta Rika. Ribuan warga bersatu menggalang donasi demi menyelamatkan Grecia.
Baca Juga: Lagu Pertama Dewa 19 Terungkap, Ahmad Dhani dan Andra Ramadhan Sudah Ngeband sejak SMP
Kasus Grecia bahkan menjadi salah satu kampanye perlindungan satwa liar terbesar di Kosta Rika.
Desakan hukuman tegas terhadap pelaku kekejaman hewan terus menggema di media sosial dan berbagai organisasi konservasi dunia.
Keajaiban akhirnya terjadi pada tahun 2016. Tim dokter hewan dan pakar teknologi berhasil menciptakan paruh palsu berbahan nilon menggunakan teknologi cetak 3D. Teknologi ini menjadi salah satu inovasi medis satwa paling revolusioner saat itu.
Momen pemasangan paruh baru Grecia membuat banyak relawan menangis haru. Awalnya Grecia terlihat kebingungan menggunakan paruh barunya.
Baca Juga: Akio Toyoda Blak-blakan! Bos Toyota Masih Pilih Bau Bensin daripada Mobil Listrik
Namun tak lama kemudian, burung tukan itu berhasil menunduk dan mengambil buah untuk dimakan sendiri.
Sorak bahagia langsung pecah di ruang rehabilitasi. Grecia berhasil bertahan hidup dan kembali menjalani kehidupannya dengan normal.
Kisah Grecia kemudian viral ke seluruh dunia dan menjadi simbol harapan bagi hewan-hewan korban kekerasan.
Baca Juga: Wujud Freelander 8 Terungkap, SUV Listrik Hasil Kolaborasi Chery dan Land Rover Siap Libas Offroad
Hingga hari ini, nama Grecia masih sering digunakan dalam kampanye konservasi satwa liar internasional.
Banyak pusat rehabilitasi hewan kini mulai menggunakan teknologi cetak 3D untuk membantu hewan yang kehilangan anggota tubuh akibat kekerasan maupun kerusakan habitat.
Perkembangan terbaru dunia konservasi pada 2026 juga menunjukkan teknologi penyelamatan satwa semakin maju.
Sejumlah media internasional baru-baru ini menyoroti penyelamatan burung tukan lain bernama Sam di Las Vegas, Amerika Serikat.
Burung eksotis itu ditemukan hidup sendirian di lingkungan gurun sebelum akhirnya berhasil diselamatkan tim rehabilitasi satwa.
Kisah Grecia, burung tukan korban penyiksaan brutal yang bangkit dengan paruh cetak 3D, kini tidak sekadar menjadi cerita sedih.
Baca Juga: Ifan Seventeen Terkejut Lihat Kaka Slank Keluar Musholla, Sebut Sosok Panutan
Grecia telah berubah menjadi simbol dunia bahwa teknologi, kepedulian manusia, dan solidaritas masyarakat mampu menyelamatkan kehidupan seekor makhluk yang nyaris kehilangan harapan.
Di tengah meningkatnya kasus kekejaman hewan di berbagai negara, kisah Grecia kembali mengingatkan dunia bahwa perlindungan satwa liar bukan sekadar pilihan, melainkan tanggung jawab bersama. (***)
Editor : Alfian Yusni