Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Wall Street Tertekan Bakal Bayangi IHSG

Redaksi • Senin, 18 Mei 2026 | 09:46 WIB
PANTAU PERGERAKAN SAHAM: Orang-orang melihat papan elektronik yang menampilkan harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta pada Kamis (29/1).
PANTAU PERGERAKAN SAHAM: Orang-orang melihat papan elektronik yang menampilkan harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta pada Kamis (29/1).

LombokPost - Tekanan pasar global diperkirakan masih membayangi pergerakan pasar keuangan domestik pada pekan ini.

Pelemahan bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street dipicu lonjakan harga minyak, kekhawatiran inflasi, hingga kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury yield) menjadi faktor pendorongnya.

Praktisi pasar modal Hans Kwee menjelaskan, inflasi AS yang masih bertahan tinggi membuat harapan pemangkasan suku bunga oleh bank sentral AS atau Federal Reserve kembali memudar. Situasi itu diperparah oleh lonjakan harga energi akibat konflik geopolitik di Timur Tengah yang terus memanas.

Baca Juga: Indosat Tancap Gas AI Nasional, Bagi Dividen Rp111 per Saham di Tengah Tantangan Ekonomi

’’Daya beli masyarakat juga masih kuat meski ada tekanan kenaikan harga energi,’’ ujarnya, Ahad (17/5).

Menurut dia, pelaku pasar global pada pekan ini akan menanti rilis notulen rapat Federal Open Market Committee (FOMC) The Fed serta data Purchasing Managers’ Index (PMI) AS.

Pasar kini mulai memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga lanjutan oleh The Fed pada Desember 2026 mencapai 40 persen.

Baca Juga: BEI NTB dan Kemenag Mataram Perkuat Literasi Wakaf Saham

Dari dalam negeri, tekanan terhadap perekonomian Indonesia dinilai masih cukup besar.

Sejumlah lembaga pemeringkat global dilaporkan menurunkan outlook surat utang Indonesia. Sementara nilai tukar rupiah sempat melemah hingga menyentuh Rp 17.500 per dolar AS menjelang libur panjang.

Hans menilai penguatan rupiah belakangan masih sangat terbatas dan lebih banyak ditopang intervensi Bank Indonesia. Karena itu, pasar memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga acuan pada pekan depan demi menjaga stabilitas nilai tukar.

Baca Juga: Lindungi Investor, Transparansi Kepemilikan Saham Kini Diperkuat

’’IHSG berpeluang konsolidasi menguat dengan support di level 6.700 sampai 6.600 dan resistance di level 6.800 sampai 6.977,’’ tambahnya.

Di sisi lain, perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode 11–13 Mei 2026 ditutup di zona negatif. Pelemahan terjadi pada sejumlah indikator perdagangan seiring meningkatnya tekanan jual investor asing di pasar domestik.

Sekretaris Perusahaan BEI Kautsar Primadi Nurahmad menjelaskan, IHSG selama sepekan terkoreksi 3,53 persen menjadi 6.723,320 dari posisi pekan sebelumnya di level 6.936,396.

“Kapitalisasi pasar BEI juga turun 4,68 persen menjadi Rp11.825 triliun dibanding Rp12.406 triliun pada pekan sebelumnya,” paparnya. (mim/dio/JPG/r3)

Editor : Redaksi Lombok Post Online
#Amerika Serikat #bank sentral #bursa efek indoneia #pasar global #saham