LombokPost — Sengkarut politik di internal Teheran kian mendekati titik didih. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, secara mengejutkan dilaporkan resmi melayangkan surat pengunduran diri kepada Kantor Pemimpin Tertinggi Iran di tengah pusaran konflik vertikal yang melibatkan elite birokrasi sipil dan faksi militer kanan negara tersebut.
Berdasarkan bocoran eksklusif yang dihimpun Iran International, dokumen krusial tersebut telah dikirimkan sejak Minggu waktu setempat. Isinya memuat pengakuan mengejutkan mengenai adanya upaya sistematis pendepakan peran presiden dari ring satu penentu kebijakan luar negeri maupun kebijakan domestik.
“Dalam kondisi seperti ini, saya tidak mampu menjalankan pemerintahan dan melaksanakan tanggung jawab hukum saya,” tegas Pezeshkian dalam penggalan suratnya yang dibocorkan oleh sumber internal, Senin (1/6/2026).
Langkah defensif yang diambil Pezeshkian ini seketika memicu kekosongan kekuasaan (power vacuum) yang krusial di struktur eksekutif. Momentum inilah yang dituding sengaja dimanfaatkan oleh sayap kanan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) untuk bermanuver ofensif, merangsek masuk guna mencengkeram kendali di berbagai sektor strategis pemerintahan.
Sinyal keretakan di tampuk kekuasaan tertinggi Republik Islam ini dinilai menjadi yang paling fatal dalam kurun beberapa bulan terakhir. Hingga detik ini, nasib surat tersebut masih menggantung di meja Mojtaba Khamenei—figur sentral yang dikenal memiliki kendali mutlak di pusat kekuasaan bayangan Teheran—apakah akan direstui atau justru ditolak demi meredam gejolak.
"Ketegangan antara kabinet sipil pimpinan Pezeshkian dengan institusi keamanan-militer sebenarnya sudah meruncing selama berbulan-bulan akibat pembatasan kewenangan secara bertahap oleh IRGC," tulis laporan investigatif Iran International.
Implikasi dari infiltrasi militer ke ranah eksekutif ini secara otomatis menyeret administrasi Pezeshkian ke dalam jurang kebuntuan politik (political deadlock). Akibatnya, rentetan agenda strategis nasional mulai dari misi diplomasi luar negeri hingga draf restrukturisasi kabinet berakhir lumpuh total tanpa kepastian.
Krisis internal ini meletus tepat saat Iran tengah dihantam badai sanksi ekonomi dan tekanan geopolitik global yang masif di kawasan Timur Tengah. Jika pengunduran diri ini disahkan, faksi garis keras IRGC diproyeksikan bakal memegang kendali penuh tanpa batas, menyeret Teheran ke dalam fase konfrontasi internasional yang jauh lebih agresif dan tidak stabil.
Meski eskalasi di lapangan terus memanas, publik masih menanti konfirmasi resmi. Baik dari Kantor Kepresidenan Iran maupun Kantor Pemimpin Tertinggi, keduanya terpantau masih memilih menutup rapat-rapat keran informasi terkait keabsahan pengunduran diri tersebut.
Baca Juga: Hasil TKA 2026 Diumumkan! Ini Cara Resmi Ambil Sertifikatnya
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin