LombokPost - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump bergerak cepat mencegah eskalasi konflik yang lebih luas di Timur Tengah. Langkah diplomatik ini diambil setelah Iran meluncurkan serangan rudal ke wilayah Israel sebagai aksi balasan atas agresi Tel Aviv di Beirut selatan, Lebanon.
Trump menegaskan akan segera menghubungi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Misinya satu: mendesak sang sekutu agar menahan diri dan tidak meluncurkan serangan balasan lanjutan ke Teheran.
Langkah krusial ini diambil di tengah kekhawatiran global bahwa aksi saling serang antar-kedua kekuatan militer tersebut dapat merusak cetak biru kesepakatan baru yang tengah dirajut antara Washington dan Teheran.
Baca Juga: Situs Sejarah Diserang, Iran Siap Gugat Amerika Serikat dan Israel ke Jalur Hukum Internasional
"Saya akan menelepon Bibi (Benjamin Netanyahu) sekarang juga dan mengatakan kepadanya untuk tidak membalas. Masing-masing sudah melakukan aksinya. Israel telah melancarkan serangan, dan Iran juga telah melancarkan serangan. Kita tidak membutuhkan serangan lainnya," kata Trump kepada Axios.
Siklus ketegangan terbaru ini pecah setelah Iran menghujani Israel dengan beberapa gelombang rudal pada Minggu.
Aksi tersebut merupakan respons langsung atas serangan udara Israel yang menyasar basis kuat Hizbullah di pinggiran selatan Beirut. Insiden ini menjadi konfrontasi langsung pertama sejak gencatan senjata yang sempat disepakati pada 8 April lalu.
Baca Juga: Upayakan Penghentian Konflik permanen, Iran Serahkan Tanggapan Atas Proposal Amerika Serikat
Meskipun militer Israel mengklaim seluruh rudal Iran berhasil dicegat sistem pertahanan udara mereka tanpa menimbulkan korban jiwa, insiden ini telanjur mengguncang stabilitas kawasan yang baru saja menikmati masa tenang.
Trump menilai karena serangan Iran tidak membawa dampak kerusakan atau korban yang signifikan, Israel tidak memiliki alasan kuat untuk meletupkan perang baru.
"Serangan Iran tidak melukai siapa pun," ujar Trump.
Ia menambahkan, "Semoga Israel tidak melakukan serangan balasan. Jika Bibi menyerang mereka kembali, maka ini hanya akan terus berlanjut seperti yang terjadi selama 47 tahun terakhir, atau bahkan 3.000 tahun terakhir."
Pertaruhan Diplomasi Washington
Di balik desakan kerasnya kepada Israel, Trump sejatinya tengah menyelamatkan agenda diplomatik besarnya. Pemerintah AS dilaporkan sudah berada di fase akhir perundingan untuk menelurkan kesepakatan baru dengan Iran. Trump khawatir, letupan meriam di Timur Tengah akan membuyarkan kerja keras diplomasinya.
"Kami sangat dekat dengan kesepakatan final dengan Iran. Ini akan menjadi kesepakatan yang baik. Saya tidak ingin semuanya gagal karena apa yang sedang terjadi sekarang," akunya terbuka.
Sikap Trump yang secara terang-terangan meminta Israel mengerem aksi militer dinilai tidak biasa. Mengingat rekam jejak Washington yang hampir selalu memberikan lampu hijau bagi Israel untuk melakukan tindakan defensif.
Di sisi lain, seorang pejabat tinggi AS menegaskan kepada Axios bahwa pihak Gedung Putih sama sekali tidak terlibat dalam dinamika serangan akhir pekan kemarin. "Kami tidak terlibat dalam hal ini," kata pejabat tersebut.
Kendati demikian, publik kini menanti apakah sikap menahan diri yang digaungkan Trump ini juga akan diikuti dengan penarikan dukungan logistik militer AS, seperti bantuan pengisian bahan bakar di udara maupun koordinasi intelijen, andai kata Netanyahu nekat mengabaikan peringatan Washington.
Editor : Redaksi Lombok Post Online