Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Harga Minyak Dunia Bisa Naik Lagi, Amerika Serikat Tetap Berkomitmen pada Perdamaian

Redaksi • Senin, 22 Juni 2026 | 13:39 WIB
BERDAMPAK LUAS: Seorang wanita Lebanon menangis sambil duduk di reruntuhan di lokasi serangan udara Israel di Desa Qennarit, Lebanon selatan, Sabtu (20/6). Serangan Israel ini mengancam implementasi kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Selain itu, tindakan Israel juga bisa memicu melonjaknya harga minyak dunia. Sebab, Iran kembali menutup Selat Hormuz yang menjadi jalur distribusi kapal kapal tanker dunia. (AFP Photo)
BERDAMPAK LUAS: Seorang wanita Lebanon menangis sambil duduk di reruntuhan di lokasi serangan udara Israel di Desa Qennarit, Lebanon selatan, Sabtu (20/6). Serangan Israel ini mengancam implementasi kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Selain itu, tindakan Israel juga bisa memicu melonjaknya harga minyak dunia. Sebab, Iran kembali menutup Selat Hormuz yang menjadi jalur distribusi kapal kapal tanker dunia. (AFP Photo)

LombokPost - Iran kembali menutup Selat Hormuz setelah Israel melancarkan serangan baru ke Lebanon yang menewaskan sedikitnya 16 orang.

Langkah tersebut memicu kekhawatiran akan terganggunya jalur pelayaran dan distribusi energi dunia, sekaligus mengancam implementasi kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang baru dicapai beberapa hari lalu.

Markas Besar Pusat Khatam-al Anbiya melalui pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah Iran pada Sabtu (20/6) mengumumkan penutupan Selat Hormuz untuk seluruh lalu lintas kapal. Rekaman pengumuman berbahasa Inggris mengenai penutupan jalur strategis itu juga beredar luas di media sosial.

Baca Juga: 500 Kapal Antre Lewati Selat Hormuz, Amerika Serikat dan Iran Sepakat Berdamai

Militer Iran menyatakan penutupan dilakukan sebagai respons atas pelanggaran kesepakatan oleh Israel yang kembali menyerang Lebanon.

"Langkah pertama ini merupakan tanggapan terhadap pelanggaran janji musuh. Jika agresi berlanjut, langkah-langkah lebih lanjut akan diambil untuk memaksa musuh mematuhi kewajibannya," demikian pernyataan tersebut.

Sebelumnya, media resmi Lebanon melaporkan serangan Israel di sebuah desa dekat Kota Sidon menewaskan sedikitnya tujuh orang.

Baca Juga: Mobil Listrik Berpotensi Makin Diminati, Dua Kapal Tanker Pertamina Masih Tertahan di Selat Hormuz

Sementara Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA) menyebut serangan lain di Qannarit menewaskan tujuh orang dan melukai sedikitnya 13 warga. Serangan itu terjadi meski gencatan senjata dengan Hizbullah baru diumumkan sehari sebelumnya.

Di tengah meningkatnya ketegangan, Wakil Presiden AS JD Vance bertolak ke Swiss untuk melanjutkan pembicaraan dengan Iran terkait implementasi kesepakatan damai.

Menurut Vance, negosiasi akan difokuskan pada program nuklir Iran serta upaya mempertahankan gencatan senjata di Lebanon.

Baca Juga: Selat Hormuz Ditutup Total, Pasokan Energi Global Terganggu

Perundingan tersebut sebelumnya sempat tertunda setelah Israel melancarkan serangan mematikan di Lebanon. Meski Israel dan Hizbullah saling menuding melanggar gencatan senjata, Washington tetap berharap jalur diplomasi mampu mencegah eskalasi konflik yang lebih luas.

Trump dan Netanyahu

Perundingan lanjutan antara Amerika Serikat dan Iran yang direncanakan berlangsung di Swiss terancam terganggu akibat berlanjutnya serangan Israel di Lebanon. Situasi tersebut bahkan memunculkan indikasi ketegangan yang semakin terbuka antara Presiden Amerika Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Utusan Khusus Amerika Steve Witkoff dan Jared Kushner dilaporkan menuju Swiss untuk mempersiapkan negosiasi teknis dengan Iran. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga diperkirakan menyusul ke negara Alpen tersebut dalam beberapa hari ke depan. Namun, pembicaraan yang semula dijadwalkan berlangsung Jumat (19/6) terpaksa ditunda setelah serangan Israel di Lebanon kembali menewaskan puluhan orang.

Sumber dari salah satu negara mediator mengatakan Araghchi telah menyampaikan kepada sejumlah mitra diplomatik bahwa gencatan senjata di Lebanon dapat menjadi faktor penentu keberhasilan atau kegagalan keseluruhan proses diplomatik antara Amerika dan Iran. MoU yang ditandatangani Trump dan Pezeshkian secara eksplisit menyerukan penghentian permanen operasi militer di semua lini, termasuk di Lebanon. Namun, Israel tetap melanjutkan operasi militernya.

’’Amerika Serikat berkomitmen pada perdamaian, dan kami mendorong semua pihak di Timur Tengah untuk mempertahankan komitmen mereka agar negosiasi dapat berjalan lancar,’’ tulis Trump seperti dilansir Al Jazeera. Trump juga menegaskan bahwa pemerintahannya mengharapkan gencatan senjata total di semua lini, termasuk Lebanon, Hisbullah, dan Israel.

Pernyataan yang lebih keras datang dari Wakil Presiden AS JD Vance. Dia secara terbuka menyatakan ketidaksenangannya terhadap serangan yang menewaskan warga sipil di Beirut ketika proses diplomasi sedang berlangsung. ’’Yang membuat presiden frustrasi adalah kita berada di ambang terobosan besar dalam kesepakatan, lalu tiba-tiba terjadi ledakan besar di pusat populasi sipil Beirut dan banyak orang yang tidak ada hubungannya dengan Hizbullah kehilangan nyawa mereka,’’ ujar Vance.

Dia mengingatkan bahwa Israel tidak bisa menyelesaikan seluruh persoalan keamanannya hanya melalui operasi militer. ’’Apa sebenarnya proposal Anda? Anda negara dengan sembilan juta penduduk. Anda tidak bisa menyelesaikan setiap masalah keamanan nasional hanya dengan membunuh,’’ katanya. (wan/gas/lyn/ai/JPG/r3)

Editor : Redaksi Lombok Post Online
#selat hormuz #Amerika Serikat #minyak dunia #iran #lebanon