LombokPost - Keajaiban memang bisa datang kapan saja. Seseorang yang tertimbun bangunan lebih dari tiga hari tak menutup kemungkinan tetap dapat ditemukan dalam kondisi selamat.
Tapi, secara umum, batas waktu krusial untuk evakuasi korban dalam situasi demikian adalah 3x24 jam. Karena itulah, tim penolong korban gempa magnitudo 7,1 yang mengguncang Prefektur Kumamoto, Jepang, kini berpacu dengan waktu.
Karena lindu yang merobohkan mal, pabrik, dan berbagai bangunan lainnya tersebut terjadi Selasa (28/7) pukul 16.27 (dua jam lebih cepat dari WIB), batas waktu krusial untuk evakuasi adalah hari ini (31/7) pukul 16.27 waktu setempat.
Baca Juga: Takaaki Nakagami Balik ke MotoGP, Honda Beri Kesempatan Wildcard di GP Jepang 2026
Sampai dengan Kamis (30/7) pukul 21.00 waktu setempat, jumlah korban mencapai 34 orang. Mengutip Japan Times, tujuh korban tewas berasal dari ledakan yang merobohkan Aeon Mall di Kota Kashima.
Delapan korban lainnya ditemukan di pabrik Nippon Paper Industries di Kota Yatsushiro. Sejumlah korban lain masih diselidiki untuk memastikan apakah kematiannya berkaitan langsung dengan gempa.
Ledakan di Aeon Mall terjadi sekitar 80 menit setelah gempa. Insiden tersebut menyebabkan sebagian lantai dua pusat perbelanjaan yang memiliki sekitar 200 toko runtuh. Diperkirakan ada ratusan hingga ribuan pekerja serta pengunjung saat kejadian.
Baca Juga: Waidah Mutiara Lombok Tembus Pasar Spanyol hingga Jepang
Adapun Presiden Aeon Akio Yoshida mengatakan, pihaknya belum dapat memastikan penyebab ledakan. "Kami tidak mengesampingkan kemungkinan kebocoran gas sebagai penyebab ledakan," kata Yoshida dalam konferensi pers Rabu (29/7) yang sekaligus menjadi momentum baginya untuk menyampaikan permintaan maaf kepada publik.
Sementara itu, News on Japan melaporkan, pemerintah Jepang telah mengerahkan polisi, pemadam kebakaran, Pasukan Bela Diri Jepang, dan Penjaga Pantai untuk melakukan pencarian korban. Sasarannya adalah bangunan-bangunan yang runtuh.
Ribuan Pengungsi
Banyak warga yang akhirnya memilih mengungsi. Sekitar 420 pusat evakuasi telah dibuka dan kini menampung hampir 9.800 pengungsi.
Gelombang panas turut memperburuk situasi. Suhu di wilayah terdampak dilaporkan telah melampaui 35 derajat Celsius. Kondisi ini tentu berbahaya bagi para pengungsi. Apalagi, sebagian wilayah belum dialiri listrik sehingga tidak ada pendingin ruangan.
Selain korban jiwa, gempa juga menyebabkan puluhan hewan peliharaan hilang setelah panik akibat guncangan. Menurut data Pemerintah Prefektur Kumamoto dan otoritas kesejahteraan hewan setempat, sekitar 80 hewan peliharaan dilaporkan hilang hingga Kamis. Salah satunya adalah seekor anjing Shiba Inu bernama Go yang kabur sesaat setelah gempa.
Pemiliknya, Yosuke Matsuda mengaku, masih terus mencari anjing peliharaannya. "Kami mengadopsinya kurang dari setahun yang lalu. Kami pikir dia pernah mengalami kekerasan sebelumnya, jadi dia sangat mudah takut," ujar Matsuda.
Upaya pencarian hewan peliharaan turut dibantu jaringan sukarelawan dan media sosial. Akademi Hewan Kyushu bahkan kembali membuka tempat penampungan ramah hewan seperti saat gempa Kumamoto 2016. (lyn/ttg/JPG/r3)
Editor : Redaksi Lombok Post OnlineSumber : Lombok Post