MATARAM-”Badai Teknologi” tengah mengguncang Indonesia sejak beberapa tahun belakangan. Tak terkecuali di NTB, badai ini menyapu banyak kalagan yang tak siap dan ogah menyesuaikan diri.
Bukannya mereda, badai ini agaknya masih akan terus bergejolak dengan kedahsyatan yang terus bertambah. Bersamanya, para pemain besar dalam berbagai bidang usaha turut dibawa. Tak sedikit pengusaha lokal yang kelabakan. Banyak pula yang sudah gulung tikar.
Perkembangan teknologi ini membuat jarak dan waktu menjadi semakin dekat. Dengan mudah, kini seseorang bisa membeli barang yang ada di berbagai belahan dunia. Dari genggaman tagan mereka yang bertajuk ponsel pintar, transaksi terjadi. UMKM jelas kepayahan menghadapi para raksasa yang datang dibawa badai itu.
Namun, seiring badai yang mulai bisa terbaca pergerakannya, pelaku lokal juga mulai memanfaatkannya. Mereka ogah berdiam diri. Terus menyesuaikan diri dan berbalik menggunakan badai yang awalnya merusak itu.
Meski hanya sebatas usaha kecil, para pelaku usaha harus sadar dan melek teknologi. Apalagi saat ini, era digitalisasi sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan.
Pemasaran melalui digitalisasi ini berpotensi besar. Teorinya tidaklah sukar, bahkan sejatinya mudah. Cukup manfaatkan teknologi dengan tepat, maka pundi-pundi uang akan datang dengan sendirinya.
Lombok Post mendapati, jasa jual beli sayuran lokal bahkan sudah coba bermain di dalamnya. Adalah Bale Sayur yang berhasil membuktikan teori tersebut. Bahkan, terbilang laris manis di kalangan netizen. ”Saya lihat, usaha sayur segar berbasis online di Lombok ini masih belum ada. Alhamdulillah, antusias masyarakat tinggi banget,” kata Owner Bale Sayur Wiladah Azzahra pada Lombok Post.
Ya, jika sebelumnya pedagang sayur berkeliling dnegan gerobak-gerobaknya menyusuri gang demi gang perumahan, ia cukup dari dalam rumah. Memanfaatkan ponsel pintar dan jaringan internet, Wiladah menjangkau banyak kawasan di Lombok.
Facebook adalah media yang dipilihnya. Menggantikan outlet yang sempat dipikirkannya. ”Saya dan suami berpikir jika buka outlet akan sama saja seperti di pasar. Akhirnya kami pilih buka usaha melalui online saja,” ujar dia.
Dalam seminggu, lebih dari 60 orderan yang didapatkannya. Untuk pemesanan, cukuplah beragam. Ada wortel, cabai, barang merah, bawang putih, kol, kangkung, buncis, dan masih banyak lagi. ”Respon masyarakat melebihi ekspektasi kami. Bahkan, peluangnya besar, karena tidak ada saingan,” jawabnya.
Harganya sama dengan yang dipasaran. Bedanya, pembeli tak harus repot pergi ke pasar, atau menanti dagang sayur keliling mendatanginya. ”Rata-rata semua orang punya sosmed,” kata Elga Anggraeni, Owner Beehoneycomb.Lop pada Lombok Post.
Walaupun termasuk usaha baru, produk yang dijualnya terbilang sukses besar. ”Saya jual sarang madu, ini sedang hits banget di kalangan generasi milenial. Pangsa pasarnya besar banget deh,” jelasnya.
Menjual sesuatu yang unik adalah strategi lain yang layak dimainkan. Dengan mengincar pasar milenial, ia menunjukkan kecerdasan lain. Merekalah pemain medsos yang terbesar persentasenya. ”Dalam sehari, bisa sampai 25 pcs dengan beragam ukuran,” ujar perempuan yang bermain di instagram itu.
”Mempromosikan dagangan kita melalui sosmed memang memberikan keuntungan yang beragam, tapi di sisi lain, tantangannya pun cukup tinggi,” kata Suhartina, Owner Yayart.id, usaha bidang seserahan pada Lombok Post.
Menurut dia, selain berlomba-lomba dengan online shop (olshop) lainnya, membuat konsumen percaya, bahwa produk yang dijualnya masuk dalam kulitas premium ternyata tidaklah mudah.
”Barang yang tidak sesuai dengan di foto, terkadang menjadi tantangan,” ujar dia.
Karena itu, bisnis ini sejatinya gampang-gampang sukar. Jika mampu enjaga kualitas, memastikan pasar yang dibidik tepat, dan menjalankan strategi promosi yang jitu, bukan tak mungkin badai teknologi ini berbuat berkah teknologi.
Pemerintah sejatinya tak tinggal diam. Mereka kini tengah berupaya memfasilitasi. Bahkan dengan membuka pasar yang lebih besar lagi. UPTD Balai Pengembangan Pelatihan dan Promosi Ekspor Daerah (BP3ED) terus mendorong pelaku UMKM di NTB untuk memasarkan produknya di Ishop.
Ini adalah wadah promo bersama dunia maya yang dimiliki daerah. Bahkan dalam waktu dekat, para pelaku usaha yang sudah bergabung akan dilibatkan langsung ke dalam e-commerce besar di Indonesia ya, tak lagi sebatas FB atau IG, Ishop besutan pemerintah mengincar langsung e-commerce. ”Sebelum melakukan kerjasama dengan e-commerce besar, kami terus dorong UMKM yang ada di sini untuk semakin melengkapi berkas-berkas yang harus dipenuhi,” kata Kepala UPTD BP3ED Disdag NTB M Taufik Rahman.
Pihaknya mensyaratkan, UMKM yang tergabung dalam Ishop ini sudah punya standar, mulai dari standar industri, balai kesehatan, BBPOM, dan standar lainnya. ”Terlebih lagi pihak e-commerce besar, mereka pasti membutuhkan standar-standar,” tuturnya.
Ishop menjadi pintu masuk dan semacam percobaan untuk itu. ”Kita upayakan, UMKM ini bisa konsen untuk melengkapi semua persyaratan administrasi. Kalau perlu, kami akan jemput bola untuk mempercepat,” jelasnya.
Sejumlah e-commerce besar seperti Shopee dan Bukalapak disebut-sebut tengah mengincar kerja sama dengan sejumlah UMKM NTB. Mulai dari UMKM dengan produk tas ketak, handy craft, tenun, dan masih banyak lagi. ”Kerjasama kearah sana memang besar,” jawabnya.
Nantinya, 53 UMKM yang sudah terlibat di dalam Ishop yang akan memperebutkan kerjasama dengan e-commerce besar yang coba digandeng. (tea/r4)
Editor : Administrator