Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Minyak Mentah Anjlok, MTI Desak Pemerintah Turunkan Harga BBM Transportasi

Administrator • Minggu, 3 Mei 2020 | 14:33 WIB
Bambang Haryo Soekartono
Bambang Haryo Soekartono
MATARAM-Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTl) Jawa Timur Bambang Haryo Soekartono (BHS) mendesak pemerintah menurunkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM).

"Khususnya solar subsidi dan solar non subsidi untuk transportasi," kata Bambang Haryo Soekartono saat di Media Center BHS, kemarin (03/05/2020).

Desakan ini dipicu lantaran sekarang harga minyak mentah dunia harganya anjlok. Serta multiplier effect atau dampak berganda yang akan muncul ketika harga solar industri diturunkan sesuai harga pasar dunia saat ini.

"Sekarang waktunya pemerintah menyelamatkan rakyat dan perekonomian karena harga minyak dunia anjlok dan industri tengah lesu," terangnya.

Pria yang menjadi Bacabup Sidoarjo ini meyakini saat BBM solar diturunkan bakal menghidupkan kembali dunia industri dan transportasi. Apalagi saat ini kondisinya terpuruk dampak pandemi Covid-19.

“Kalau sektor industri dan transportasi hidup, maka akan menggugah perekonomian rakyat,“ ujar Bambang atau akrab disapa BHS.

Selain itu, langkah perusahaan yang hendak merumahkan karyawannya bisa diminimalisir. Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) bakal menggeliat kembali. Bagi BHS saat ini pemerintah harus memperhatikan desakan itu. Karena kebutuhan dasar serta beban terbesar industri adalah energi atau BBM. Jika dikalkulasikan, bebannya mencapai 30 sampai 60 persen dari seluruh biaya produksi.

"Desakan ini agar perekonomian tetap membaik dan daya beli masyarakat terdongkrak (naik)," ucapnya.

Tidak hanya itu, kata mantan anggota DPR RI periode 2014-2019 ini, jika harga solar diturunkan maka akan berdampak pada penurunan harga listrik. Karena 20 persen listrik disuplai dari tenaga diesel (solar). Apalagi, saat ini harga batubara juga sudah anjlok drastis.

Ia mengulas saat tarif listrik turun, secara ekonomi bakal membantu perekonomian rakyat. Bahkan mampu membuat dunia usaha dan UMKM kembali hidup. Hal ini bisa berimbas pada daya beli masyarakat tetap stabil. Begitu juga sektor dunia pariwisata, hotel dan restoran akan terbantu. Sehingga tidak akan ada kasus pemutusan hubungan kerja (PHK) karyawan.

Karena itu, politisi Partai Gerindra ini meminta Presiden Jokowi beserta menteri keuangan dan menteri perekonomian mendesak menteri ESDM dan Pertamina. Agar segera menurunkan harga solar subsidi dan non subsidi sesuai harga internasional yang sesungguhnya berkisar Rp 3 ribu per liter. Penurunan harga solar subsidi dan non subsidi itu berdampak besar bagi perekonomian.

Sementara untuk BBM kendaraan pribadi yakni jenis premium menurutnya tidak perlu diturunkan. Tujuannya membatasi mobilitas warga saat pandemi Covid-19.

"Inilah saatnya Pak Presiden Jokowi menunjukkan kinerjanya yang pro rakyat sekaligus membuktikan Nawacitanya," jelasnya.

Menurut BHS, jika harga solar subsidi dan non subsidi turun 50 persen bakal menekan biaya transportasi dan distribusi logistik. Saat usaha transportasi mampu bergerak normal maka akan memperlancar kembali pasokan logistik ke semua wilayah kepulauan di Indonesia dengan harga murah.

Menurutnya saat ini, sejumlah negara penghasil minyak seperti Malaysia, Rusia, Brunei Darussalam dan Amerika sudah mematok harga BMM setara Rp 2 ribu- 4 ribu per liter. Selanyaknya di Indonesia sebagai penghasil minyak juga menyesuaikan dan menurunkan harga minyak (solar) itu.

Gas internasional juga mengalami penurunan harga di posisi 2-3 Dolar Amerika per Million British Thermal Unit (MMBTU). Jika harga gas turun maka harga pupuk diyakininya juga akan turun 50 persen. Ini tentu membantu iklim dunia pertanian. (nur/r10) Editor : Administrator
#minyak mentah #Bambang Haryo Soekartono #BBM