Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Aktivitas Pasar Baju Bekas Karang Sukun Belum Normal

Baiq Farida • Sabtu, 25 Juli 2020 | 12:05 WIB
BERBURU BAJU BEKAS : Sejumlah pembeli mengunjungi salah satu lapak pedagang baju  bekas, di Pasar Karang Sukun, Jumat (24/7/2020).
BERBURU BAJU BEKAS : Sejumlah pembeli mengunjungi salah satu lapak pedagang baju bekas, di Pasar Karang Sukun, Jumat (24/7/2020).
MATARAM–Aktivitas jual beli baju bekas impor di Pasar Karang Sukun perlahan membaik. Namun demikian masih jauh dari kata normal. Pedagang yang mulai membuka lapak juga belum semuanya. ”Pedagang sebenarnya masih takut. Namun kondisi ekonomi yang seret membuat mereka mau tidak mau harus berjualan,” kata Bahraen, Kepala Pasar Karang Sukun kepada Lombok Post, Jumat (24/7/2020).

Dari 53 pedagang yang terdaftar, saat ini 35 sudah mulai berjualan. Menurutnya, masyarakat memang masih khawatir baju-baju impor yang didatangkan dari Cina bisa menularkan Virus Korona. Padahal, kata dia, sebagian besar pedagang mengambil baju yang berasal dari Singapura dan Korea.

”Banyak yang takut, jadi masih enggan membeli baju di sini. Kalau pengunjung minim, tentu jumlah pedagang juga belum terlalu banyak,” jelasnya.

Dijelaskan pihaknya juga coba menerapkan protokol kesehatan. Mengimbau pedagang maupun pengunjung selalu menggunakan masker. Namun, pembeli yang tidak diperbolehkan masuk akibat tidak menggunakan masker justru membuat tingkat kunjungan semakin berkurang. Hal ini tentu mempengaruhi pendapatan pedagang.

”Seharusnya pengunjung bisa lebih tertib. Kalau mau belanja harus gunakan masker. Supaya pedagang juga tidak kecewa karena jumlah pengunjung sedikit,” ujarnya.

Hal itu diakui Roni, salah satu pedagang. Dikatakan, pendapatannya mulai merosot sejak awal kemunculan pandemi. Keaadaan tersebut membuatnya harus beralih profesi sementara menjadi pedagang sayur keliling.

”Mulai momen menjelang lebaran, Mall ditutup. Saya dan para pedagang melihat ini sebagai peluang. Karena masyarakat tetap butuh baju baru dengan harga terjangkau,” katanya.

Demi mengisi ketiga lapak miliknya, ia harus membeli lima sampai enam bal baju sekaligus dari pihak pemasok asal Bali. Modalnya berkisar Rp 17.000.000 hingga Rp 20.000.000 dalam sekali buka. Ia mengaku tak pernah kesulitan mendapat pasokan barang, meski di momen Korona sekalipun.

”Sempat khawatir karena peraturan impor barang diperketat. Tapi ternyata lancar-lancar saja. Jadi semua lapak bisa terisi,” ungkapnya.

”Karena kalau hanya diisi setengah,  lapaknya terlihat kurang menarik di mata pengunjung. Karena variasi bajunya sedikit,” tambah pria tiga anak ini.

Berjualan sejak tahun 2014, pendapatannya ratusan ribu hingga Rp 1.000.000 per hari. Kini, meski situasi perlahan sudah kembali normal, pendapatannya masih belum stabil.

”Kadang ratusan ribu, kadang hanya puluhan saja. Tapi situasi ini masih lebih baik daripada dulu yang tidak ada pemasukan sama sekali,” ujarnya. (eka/r9)

  Editor : Baiq Farida
#baju bekas #Karang Sukung #efek Korona