Kini disulap menjadi tempat yang tak hanya cantik, namun juga memiliki beragam wahana menarik. Dengan segudang daya tarik inilah, wisata air Denda Seruni mampu memberikan kontribusi ke Pendapatan Asli Desa (PAD) Rp 30.000.000 hingga Rp 40.000.000 per bulan.
”Wisata ini dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Sejahtera Mandiri Desa Seruni Mumbul sejak Juni 2019. Tujuannya, agar perekonomian masyarakat setempat bisa berjalan sekaligus mengurangi penganggguran,” kata Tajuddin, kepala Desa Seruni Mumbul, kepada Lombok Post, Minggu (6/9/2020).
Pembuatan destinasi ini direplikasi dari Desa Ponggok, Klaten, Jawa Tengah. Setelah rapat antara LKMD, BPD, masyarakat,dan tokoh pemuda akhirnya mereka sepakat untuk membuatnya. Modal Rp 649 juta diambil dari dana desa. Meski ditolak beberapa warga, ia berhasil meyakinkan bahwa keputusan ini bisa mendorong desa untuk lebih mandiri.
Terbukti, Denda Seruni bisa menjadi penopang ekonomi desa pasca terdampak Korona. ”Destinasi ini sempat tutup selama Korona. Di masa new normal, pendapatan dari Denda Seruni ternyata tetap mampu meraup Rp 16 juta pada Bulan Juli, dan Rp 25 juta saat Agustus,” katanya.
Destinasi Denda Seruni juga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Seluruh pendapatan yang diperoleh, bisa dialokasikan untuk menyekolahkan dan memfasilitasi anak kurang mampu. Serta beragam kegiatan masyarakat dan sosial lainnya.
Pemkab setempat juga telah mendukung dengan memberikan tambahan fasilitas, berupa pembangunan musala dan bibit ikan. Tak ingin membuang kesempatan, pihak desa ingin mengembangkan lokasi tersebut dengan aneka destinasi baru. Sisa lahan mangrove akan dijadikan villa terapung. Dari sini, kesempatan kerja terbuka lebar bagi warga desa sebagai pramuwisata.
”Kami mencari kapal-kapal rusak untuk dipermak dijadikan penginapan terapung. Kebudayaan dan kuliner lokal bisa ditunjukkan oleh warga desa layaknya yang ada di Desa Sade, Lombok Tengah. Wisatawan bisa memacing ikan, menangkap keong dan aneka kegiatan lainnya,” jelasnya.
Di lokasi seluas 1,5 hektare ini, pengunjung bisa menikmati pemandangan rawa yang asri. Pihaknya menyediakan perahu, speedboat, sepeda air, bebek kayuh untuk berkeliling sepuasnya. Ada puluhan spot foto, rumah pohon, dan beberapa pedagang kuliner. Terbaru, ada Menara Eiffel yang terbuat dari bambu.
Harga tiket masuk hanya Rp 5.000 bagi orang dewasa, dan gratis bagi anak-anak. ”Hari biasa ada 60 kunjungan. Akhir pekan bisa 300-400an pengunjung,” jelas Rahmat, salah satu anggota Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) sekaligus pengelola Denda Seruni.
Menurut Rahmat, meski sempat terdampak Korona, tak butuh waktu terlalu lama untuk memulihkannya. ”Selama Korona, beberapa wahana alami kerusakan. Anggaran sisa PAD kami gunakan untuk memperbaiki sehingga bisa segera beroperasi. Kini, roda ekonomi desa bisa kembali berjalan berkat tempat ini,” jelasnya. (eka/r9)
Editor : Baiq Farida