Henry Wilmana, pemilik showroom Galeri Mobil seken meyakini, pihaknya hanya akan bersiaga selama tiga bulan saja. Mengikuti kebijakan relaksasi yang hanya berlaku Maret-Mei 2021 mendatang. ”Harusnya sih mobil seken iklimnya masih aman. Karena kebiijakan tidak berlangsung selamanya atau terus menerus,” katanya, (15/2).
Dia optimis, terlebih aturan tersebut berlaku untuk kriteria mobil tertentu. Yakni berkapasitas di bawah 1500 cc, dan memiliki komponen lokal 70 persen. Untuk itu, pihaknya berencana melakukan adaptasi dengan menurunkan harga 5-10 persen untuk mobil yang sesuai kriteria tersebut. Karena harga mobil baru setelah penghapusan PPnBM akan sangat bersaing dengan harga mobil bekas yang saat ini berada di pasaran.
Dengannya penjualan mobil seken diyakini tak akan kalah saing. “Kita juga turunkan harga untuk relaksasi,” ujarnya.
Menurutnya, upaya ini menjadi penyesuaian penting. Mengingat dampak Korona yang amat besar menghantam bisnisnya sepanjang 2020 lalu. ”Harus fleksibel seprti itulah kita di dunia bisnis,” lanjutnya.
Hal senada dikatakan I Gede Sangkara, pemilik Utama Mobil seken. Dikatakan, iklim bisnis mobil seken saat ini mulai stabil. Meski masih sepi pembeli, momen akhir tahun sebelumnya menorehkan catatan penjualan yang positif. Diharapkan, lonjakan pembelian mobil bekas kembali terjadi jelang perayaan Idul Fitri nanti. ”Biasanya siklus tahunan seperti itu. Semoga tahun ini bisa kembali,” katanya.
Pembelian selama akhir tahun lalu, membuat sejumlah stok mobil menipis. Untuk itu, bukan tidak mungkin insentif ini membuat banyak orang menjual mobil lamanya untuk bisa membeli mobil baru. Dengannya penjual mobil seken lebih mudah mendapatkan stok mobil yang masuk di showroom miliknya. ”Tapi semoga yang dijual ya yang best seller. Itu baru menguntungkan kita,” harapnya.
Sebelumnya, Pengamat Ekonomi Universitas Mataram Firmansyah menyoroti insentif ini tak bisa dimanfaatkan sebagian besar masyarakat. Ia menyarankan, insentif ini dibarengi kepastian efektivitas vaksin. Sebab, keputusan berbelanja membeli mobil dipengaruhi sejauh mana bergairahnya ekonomi berkat vaksinasi. ”Ini kebutuhan yang di masa pandemi orang masih wait and see untuk membeli,” tegasnya. (eka/r9)
Editor : Wahyu Prihadi