MATARAM-Bagi Amril Hadi, pemilik Ermina Produk Tas Kulit asal Dasan Tapen, Gerung, Lombok Barat, tas kulit bisa dipadukan dengan berbagai kreasi. Salah satunya dengan kain tenun khas Lombok.
Dengannya produk fashion tersebut mampu memiliki daya tarik kearifan lokal. ”Tas kulit biasa bisa kita jadikan lebih cantik dengan kain tenun khas NTB,” katanya.
Dikatakan, usaha yang digeluti sejak tahun 2013 ini dilakukan secara tak sengaja. Ia sebelumnya berprofesi sebagai mekanik produk elektronik, hingga pengemudi mobil travel wisata. Sayangnya, kondisi ekonomi yang tak membaik membuatnya beralih sebagai pengusaha.
Dimulai dengan mencoba pembuatan tas untuk sang istri. Memanfaatkan bahan baku lapisan kulit yang biasa dipakai untuk jok motor. Ia sendiri mengaku tak punya keahlian sebagai perajin apalagi menjahit dan hanya belajar secara otodidak. ”Saya lihat di majalah, tapi saya tetap coba,” katanya.
Selama setahun, tas buatannya hanya menggunakan kulit sintetis dan bukan kulit asli. Juga proses pengerjaan satu buah produk memakan waktu cukup lama. Dirinya sempat ingin menyerah. Namun dia justru mendapat kenalan seorang pengusaha kain tenun asal Medan yang menetap di Lombok.
Ia diundang untuk melihat-lihat hasil tenun buatannya. Pihaknya pun diajak berkolaborasi memanfaatkan tas menggunakan kain tenun khas NTB. ”Saya yakin ini pasti bisa bernilai jual lebih tinggi,” katanya.
Gayung bersambut, tas kulit sintetis dengan kain tenun ini langsung mendapat banyak permintaan. Banyak yang sudah dikirim ke beberapa daerah. Meski terkadang ditolak karena bahan bakunya yang memang kurang berkualitas. Dari sinilah pihaknya mulai menggunakan kulit asli. Masukan dari supplier dan customer terkait desain dan lainnya juga terus diikuti.
Akhir 2014, tas produksinya sudah terjual ke luar negeri. Seperti Jepang, Singapura, bahkan Eropa. Tas buatannya terkenal sebagai salah satu produk kerajinan asli Lombok. Terlebih, kala itu belum banyak perajin yang memproduksi tas serupa. ”Ekspornya waktu itu juga melalui agen bukan langsung dari saya,” ujarnya.
Makin besar permintaan, pihaknya mulai membuka lapangan pekerjaan. Merekrut tujuh orang anak-anak muda yang putus sekolah lalu diberikan pelatihan. Produknya juga semakin beragam. Keuntungannya pun semakin besar. Dalam satu bulan dirinya mampu mengantongi ratusan juta. ”Kisaran harga Rp 200-500 ribu, tergantung dari model, ukuran, dan bahannya,” katanya. (eka/r9)
Editor : Galih Mps