"Ini tentu juga berpengaruh pada hasil produksi UMKM (usaha mikro kecil menengah, red) karena untuk pajak barangnya ini harus dibebankan kepada konsumen," ucapnya, Selasa (5/4/2022).
Menurutnya, untuk meningkatkan derajat kualitas sektor UMKM kerap mendapat ujian bertubi-tubi. Mulai dari ujian bencana gempa bumi, berlanjut pandemi Covid-19 hingga lebih dari dua tahun, ditambah dengan kenaikan PPN 11 persen, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax, hingga wacana kenaikan LPG 3 kilogram dan BBM jenis Pertalite.
"Saya pikir kita (UMKM, red) harus tetap optimis, saya yakin UMKM selalu mencari cara untuk menyiasati ini," tambahnya.
Kemungkinan siasat yang bakal dilakukan, kata Bunda Niken, adalah mencari platform yang dapat menjual atau memasarkan lebih banyak produk-produk UMKM. Guna mengurangi biaya produksi yang harus digelontorkan UMKM.
"Kita di daerah hanya bisa saling mengingatkan, optimis karena ini semua kebijakan dari pusat. Pemda tetap berikan pelatihan-pelatihan, jejaring diperluas," tandas istri Gubernur NTB ini. (ewi/r10) Editor : Baiq Farida