"Ketika orang semakin banyak memegang uang otomatis kemungkinan harga-harga juga ikut naik. Logikanya, barang terbatas kemudian orang banyak pegang uang maka berapa pun harganya tetap akan dibeli itu barang," ucap pengamat ekonomi NTB Firmansyah, Sabtu (14/5/2022).
Tak hanya itu, kenaikan harga yang berdampak pada inflasi secara ril berasal dari cost push inflation. Dimana bersumber dari kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).
"Tidak apa-apa kan kita waspadai dari dua sisi ini, sisi lain dari perbaikan ekonomi, lainnya lagi dari akibat kenaikan harga BBM," terangnya.
Namun menurutnya, akan beda cerita jika nilai pertumbuhan ekonomi tersebut ril atau berkualitas. Pertumbuhan inflasi akan seimbang dari pertumbuhan ekonominya.
Namun menjadi pertanyaan adalah sejauh mana pertumbuhan ekonomi ini tersebar pada semua sektor. "Jika masih terbatas pada suatu sektor yang berkontribusi maka belum bisa dianggap sebagai pertumbuhan ekonomi yang berkualitas tinggi," tegas dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mataram ini.
Seperti diketahui, pertumbuhan ekonomi NTB pada triwulan I-2022 mencapai 0,92 persen (q to q) atau 7,76 pern (y to y). Untuk sektor pertanian, perikanan dan kehutanan berkontribusi sebesar 21,91 persen; sektor pertambangan dan galian berkontribusi sebesar 20,07 persen.
Kemudian, pada sektor perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor berkontribusi sebesar 13,54 persen; sektor konstruksi berkontribusi sebesar 8,60 persen sedangkan sektor administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib hanya menyumbang 5,79 persen.
"Tapi kalau sudah merata dari semua sektor ini, ekonomi merata maka kemungkinan gini indeks akan turun," ucapnya.
Sebagai bentuk kewaspadaan pada pertumbuhan ekonomi ini, kata dia, pemerintah harus memastikan bahwa produk-produk kebutuhan pokok terpenuhi dan aman beberapa bulan ke depan. Menyiapkan dan menginformasikan perkembangan harga bahan pokok pada masyarakat sehingga mereka tidak berekspektasi terlalu jauh.
"Operasi pasar dilakukan ketika terjadi kenaikan harga," katanya menyontohkan.
Sementara untuk mendorong pemerataan kontribusi ke semua sektor, sambungnya, perlu dilakukan keterikatan antarsektor. Misal, sektor pertanian yang tumbuh dimanfaatkan juga untuk sektor industri. Ketika sektor industri tumbuh, maka sektor jasa dan perdagangan juga terdampak.
"Nah sekarang yang menjadi titik tekan adalah intermediate oleh sektor perindustrian. Ini jadi kunci untuk menyebar pertumbuhan ekonomi secara merata. Kuncinya kalau pariwisata berkembang maka sektor industri ini apa kiprahnya untuk memajukan sektor pariwisata, begitu juga kiprah industri di pertanian, perikanan dan lainnya," beber Firmansyah.
Menurutnya, ketika sektor industri bertumbuh bakal memberikan multi efek lebih besar dan luas. Hal inilah yang harus dipikirkan, membuat keterkaitan setiap sektor dengan sektor industri.
"Saya rasa ini salah satu upaya untuk penyeragaman, pemerataan pertumbuhan ekonomi NTB ke depan," tukasnya. (ewi/r10) Editor : Baiq Farida