"Sebenarnya jika produksi pakan yang dicanangkan BRIDA jalan, maka persoalan harga telur tidak jadi masalah. Namun persoalan saat ini harga pakan mahal. Sedangkan peternak kita tidak bisa formulasi sendiri pakannya," kata Kepala Bidang Penyuluh Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan (P3HP) Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) NTB Rahmadi, Rabu (24/8/2022).
Ia menjelaskan, imbas mahalnya harga pakan ternak berdampak pada program pemprov melalui Disnakkeswan NTB. Sebelumnya, dinas telah membantu pembangunan kandang hingga penyediaan bibit dan pakan bagi 103 kelompok ternak. Guna memenuhi kebutuhan telur dalam daerah agar harga tidak naik signifikan. Hanya saja banyak peternak yang tumbang akibat harga pakan yang mahal.
Dari segi konsumsi, diakui, NTB belum mampu untuk swasembada telur. Harapannya tahun depan NTB sudah bisa swasembada telur. Namun, karena kondisinya seperti ini maka bantuan usaha yang telah diberikan pemerintah kepada peternak banyak yang tumbang.
"Artinya produksi telur dalam daerah belum memenuhi kebutuhan sendiri. Sehingga mau tidak mau mendatangkan dari luar sebanyak 600 ribu butir per tahun," tukasnya.
Seperti diketahui, harga komoditas telur ayam di sejumlah Pasar Tradisional Kota Mataram kian melejit. Kenaikan harga telur ayam tersebut diduga karena tingginya permintaan untuk pengadaan bantuan sosial pemerintah dalam bentuk bagi-bagi telur.
"Semenjak pembagian PKH (Proram Keluarga Harapan) harga telur naik jadi Rp 53-55 ribu. Padahal kemarin sempat dikisaran Rp 46-47 ribu," kata salah satu pedagang telur ayam di Pasar Tradisional Pagesangan Wahyuni.
Ia mengatakan, kenaikan harga telur sudah berlangsung selama dua pekan terakhir. Hal tersebut karena banyaknya permintaan dari kader di desa-desa. Dalam rangka pemenuhan kebutuhan protein hewani masyarakat penerima manfaat PKH.
"Harga telur di tingkat pedagang kian melonjak, karena permintaan telur yang semakin tinggi," tambahnya.
Sisi lain, kenaikan harga telur ini justru dikeluhkan para pedagang karena memberatkan pedagang kecil. Selain itu omset penjualan telur ayam milik mereka semakin menurun.
"Masyarakat karena sudah dapat telur PKH, banyak tidak beli telur lagi tunggu habis katanya. Tapi kan yang dibeli kader biasanya banyakan dari peternak langsung, kita pedagang yang berat," katanya mengeluh.
Senada, pedagang sembako di Pasar Tradisional Kebon Roek Lailatul Murzi, terpaksa menaikkan harga telur karena mengikuti kenaikan harga telur di tingkat peternak dan distributor.
"Iya sudah naik (harga telur, red), karena dari peternaknya kita juga sudah dikasih tinggi Rp 50 ribu per trai," jelas Murzi.
Berdasarkan pengakuan peternak yang diterima Murzi, kenaikan harga telur juga dipicu karena meningkatnya harga pakan dan biaya produksi usaha ternak ayam petelur mereka. Alhasil peternak pun menaikkan harga jual telur ke tingkat pedagang.
"Tapi dominan karena pakan naik," tandasnya. (ewi/r10) Editor : Baiq Farida