MATARAM-Sebanyak 21 negara difasilitasi melihat produk unggulan NTB di Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa. Para pengusaha diantaranya berasal dari Amerika, Norwegia, Jerman, Belanda, Polandia, India, Bangladesh, China, Hongkong, Taiwan, Korea Selatan, Jepang, Vietnam, Malaysia, Singapura, Thailand, Australia, Dubai, Arab Saudi, Mesir, dan Uni Emirat Arab. ”Sudah kami fasilitasi dan kami antarkan langsung ke daerah produksinya,” kata Pendamping Buyer Supiandi pada Lombok Post, Kamis (5/1).
Produk unggulan NTB yang dicek ada sebelas komoditas. Pertama, vanila organik dan nonorganik. Kedua, rumput laut (jenis sargasum, cottoni, spinosum, ulva, gracilaria). Ketiga, ikan tuna (jenis whole, loin dan co).
Keempat, kopi (green beans). Kelima, sarang burung walet. Lalu lobster dan udang vaname, ikan segar (grouper dan lainnya), kerajinan (ketak, sedotan bambu, anyaman.
Kesembilan ada sayur. Kesepuluh buah-buahan segar (manggis, alpukat dan nanas). ”Pendampingan ini kita mau coba kirim pakai kontainer ke China,” terangnya.
Pemasaran dan pengembangan produk unggulan memiliki tantangan tersendiri. ”Petani kita belum memiliki SOP penanaman,” terangnya.
Selama ini petani yang ada hanya tanam dan menunggu panen saja tanpa intervensi pupuk dan lainnya. ”Kedepan, kita akan mulai edukasi petani agar hasil lebih baik,” ujarnya.
Selain itu, dalam hal pasca panen masih apa adanya. Belum ada treatment khusus. Petani juga harus mendapatkan edukasi terkait kualitas dan kuantitas produk unggulan yang bisa dikirimkan ke luar negeri. Perlu juga pengembangan teknologi dalam mendukung produk tetap memiliki kualitas tiba di negara tujuan. ”Insya Allah buyer ini sepakat untuk memberikan edukasi treatment manggis agar pengiriman dari Lombok ke China kondisi manggis tetap segar dan kupingnya tidak rusak. Jelas ini ada teknologi untuk mematikan pertumbuhan buah, dan dihidupkan lagi saat buah sampai China,” imbuhnya.
Pengembang kopi Sajang Ruslan mengatakan yang dikirim keluar negeri dipastikan produk berkualitas. Tentunya ada pemilahan hasil sebelum akhirnya kirim sesuai permintaan pasar. ”Beberapa buyer yang menentukan produk mana yang diinginkan mereka dan sesuai dengan standar produk yang diterapkan di negara tujuan,”kata dia. (nur/r9)
Editor : Galih Mps